Kamu Pasti Gagal!

Kamis, 08 Mei 2014
Fenomena krisis iman telah banyak menjangkiti muslim di Indonesia. Maraknya konversi agama (murtad) merupakan salah satu bukti yang cukup jelas.

Salah satu fenomena tersebut terekam jelas dalam sebuah dialog antar hati antara seorang dosen dan mahasiswanya di sebuah Perguruan Tinggi swasta yang menyandang atribut keislaman di Surakarta. Kebetulan saja mahasiswa tersebut mengambil jurusan ushuluddin.

Kata ushuluddin seringkali diplesetkan menjadi uculuddin (kata “ucul” dalam Bahasa Jawa berarti “lepas”, jadi kata uculudin dimaknai dengan “lepas dari agama”) yang cukup mewakili fenomena konversi agama para mahasiswa tersebut.

Dosen    : “Saya dengar dari teman-temanmu kamu sudah pindah agama. Apa kabar itu benar?”

Mahasiswa    : “Benar Pak. saya hari ini adalah penganut agama Kristiani.”

Dosen    : “Lho. kenapa kamu harus pindah agama?”

Mahasiswa    : “Saat ini saya sedang memperdalam Perbandingan Agama, Pak. Saya mempelajari secara mendalam agama lain secara langsung dengan menganutnya. Dengan demikian penilaian saya terhadap spiritualitas dan ajaran agama lain akan lebih objektif dan mendalam. Hal ini juga untuk mengetahui tentang berbagai fenomena pengalaman bathin yang dialami oleh sejumlah penganut agama.”

Dosen    : “Apakah berarti pada hari lain kamu juga kan pindah ke agama lain lagi?”

Mahasiswa    :  “Tentu saja, Pak. Saya pasti akan melakukannya.”

Dosen    : “Oh. Kalau begitu sebaiknya kamu kembali masuk Islam saja. Karena saya anggap kamu sudah gagal ketika kemarin kamu memeluk agama Islam. saya juga yakin kamu juga akan gagal untuk mempelajari agama lain dengan caramu itu.

Mahasiswa    : “Lho. kenapa bisa begitu Pak? Apa alasannya?" (protes)

Dosen    : “Dalam ajaran Islam ada larangan untuk murtad bagi pemeluknya. Sekarang kamu sudah keluar dari Islam. Itu berati satu ajaran dalam islam belum bisa kamu jalani dengan baik. Itu kan sama artinya kamu sudah gagal menjadi seorang muslim. Maka saya juga yakin kamu akan gagal ketika melaksanakan agama lain. Lebih baik kamu berhasil menjalankan agama Islam dengan baik namun gagal menjalankan agama lain daripada kamu  gagal dalam semua agama.”

Mahasiswa    : “!!!!!????”

[muslimdaily/susiyanto]


Menu Diet Buah-Buahan Obat Penyakit Hati

Selasa, 06 Mei 2014
Ini menu diet buah-buahan yang sehat lahir batin. Dicoba ya, ada 10 buah yang bisa menyembuhkan penyakit hati kita :
  1. Markisa : Mari Kita Sabar,
  2. Stroberi : Selalu Introspeksi, Belajar Rendah Hati,
  3. Salak : Selalu Baik dalam Bertindak,
  4. Jeruk : Janganlah Berbuat Buruk,
  5. Pisang : Pantang Iri, Sombong, dan Angkuh,
  6. Anggur : Ayo Gemar Bersyukur,
  7. Melon : Menolong Orang Lain,
  8. Tomat : Tobat Sebelum Kiamat,
  9. Talas : Tak Ada Kata Malas,
  10. Mentimun : Menuntut Ilmu, Tidak Banyak Melamun.
Selamat Menikmati Buah-Buahan Obat Penyakit Hati ....


Meski Diganggu, Abu Hanifah Masih Peduli dengan Tetangga

Senin, 05 Mei 2014
Sekalipun para ulama terdahulu adalah sosok yang hebat semangatnya dalam mengkaji  Islam dan ahli ibadah, mereka juga peduli dengan lingkungannya. Coba tengok satu kisah tentang imam Abu Hanifah. Ulama yang disegani di zamannya ini suatu kali pernah bermasalah dengan tetangganya.

Abu Hanifah dikenal begitu aktif memuliakan malam hari dengan shalat tahajud. Hanya saja, dia punya tetangga yang bisa dibilang pengganggu saat tengah malam tiba. Hobinya yang suka mabuk-mabukan, seringkali membuat kegaduhan. Tetangga lain pun terganggu, termasuk pula Abu Hanifah yang sedang melakukan shalat.

Ternyata, tetangga tersebut  memang punya niat buruk untuk mengganggu kekhusyukan sang imam. Ketika mabuk, dia melantukan puisi atau syair cinta sembari menenggak minuman keras. Tabiat orang mabuk adalah bicara asal bunyi, dan seringkali membuat ulah dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar diri.

Namun, suatu hari Abu Hanifah merasa heran. Tiba-tiba saja kegaduhan yang biasa terjadi ketika dirinya shalat tahajud mendadak hilang.  Beliau pun mencari tahu ada apa dengan tetangganya itu. Dari penelusuran yang dilakukan Abu Hanifah, diketahui tetangganya telah ditangkap petugas dan meringkuk sebagai tahanan.

Ternyata, Abu Hanifah tidak lantas berpuas diri mendengar keadaan tetangganya itu. Beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke penjara. Ketika penguasa setempat mandapati sang imam di area penjara, Abu Hanifah pun ditanya oleh penguasa tentang alasannya berada di sana. Abu Hanifah mengatakan, dirinya sangat prihatin dengan kondisi tetangganya. Mendengar hal tersebut, akhirnya tetangga Abu Hanifah dibebaskan dengan segera. Kala itu, Abu Hanifah adalah sosok ulama yang sangat dihormati, termasuk oleh penguasa setempat.

Mengetahui dirinya dibebaskan atas campur tangan Abu Hanifah, sang tetangga menanyakan alasan sang imam membantunya keluar dari penjara. Dan, Abu Hanifah menjawabnya dengan ucapan yang menyentuh.

“Karena, Anda punya hak dari saya sebagai tetangga. Dan, saya belum lalai soal itu,” ujar Abu Hanifah.

Kalimat ini begitu meluruhkan hati sang tetangga. Tidak lama setelah itu dia mendapat hidayah dan memeluk Islam.



'Orang Yang Tidak Pernah Menipu, Tidak Akan Pernah Tertipu Juga'

Minggu, 04 Mei 2014
Tersebutlah seorang pedagang emas yang memiliki sebuah toko yang sangat ramai di suatu pasar di Indonesia yang terkenal sangat jujur. Salah satu slogan hidup sekaligus motto dagang yang dipercayainya adalah bahwa “Seorang yang tidak pernah menipu tidak akan pernah tertipu “.

Slogan yang diyakininya tersebut sebenarnya merupakan ajaran seorang Kyai bijak dari sebuah daerah di Jawa Barat. Sang pedagang sedemikian kuat memegang slogan tersebut sebagai filosofi hidup sekaligus bisnisnya. Hingga suatu ketika, dia merasa bahwa slogannya tersebut harus ditinjau ulang. Pasalnya, dia tertipu mentah-mentah oleh seseorang yang mengaku sebagi musafir.

Setelah kejadian itu maka sang Pedagang menjadi ragu dengan motto bisnisnya dan mencoba mempertanyakan ajaran Kyai yang dianggap bijak tersebut.

Kyai: Yah aku sudah mendengar bahwa ada seseorang yang sudah mengakali kamu. Bagaimana sebenarnya ceritanya?

Pedagang: Begini, Kyai. Ada seorang yang mengaku musafir dan dia mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan biaya untuk melanjutkan perjalanannya. Kemudian musafir itu menawarkan emas dengan harga yang sangat murah kepada saya karena dia sedemikian membutuhkan uang secepatnya.

Kyai: Lantas kenapa kamu ragu dengan ajaranku bahwa “Orang yang tidak pernah menipu tidak akan tertipu”?

Pedagang: Selama ini saya sudah bersikap jujur akan tetapi kenyataannya saya tetap tertipu. Musafir itu ternyata menjual emas palsu kepada saya.

Kyai: Oh, kalau begitu persoalannya. Sebenarnya bukan slogan itu yang salah, tetapi kamu yang sudah menipu dirimu sendiri. Coba pikirkan, mana ada emas yang harganya murah? 

[muslimdaily/susiyanto]




Seberapa Pede Kita Dengan Amal Kita?

Kamis, 01 Mei 2014
Seringkali kita pede dengan amalan kita. Bak malaikat pencatat amal, kita seolah sudah sangat yakin bahwa amalan-amalan kita sudah sangat cukup untuk membeli surga. Padahal amalan shalat masih bolong sana bolong sini. Jarang ke masjid untuk berjamaah, tidak peduli dengan kepentingan islam dan kaum muslimin. Tidak pernah sedekah, jarang sekali berinfak di jalan Allah. Lisan ngga pernah berzikir, kalau menyanyi justru sangatlah sering. Doa tidak pernah dilantunkan, tapi kalau mengeluh sudah menjadi pekerjaan harian. Tidak ada anggota wudu yang tersentuh air, karena keangkuhan dan kesombongan kita sebagai manusia, telah melewati batas yang seharusnya.

Lalu amalan yang mana yang akan kita andalkan? Rasulullah SAW memiliki sahabat yang bernama Bilal bin Rabbah radhiyallahu'anhu. Bilal adalah seorang sahabat yang suara terompahnya(sandalnya) sudah terdengar di surga, padahal ia masih hidup di dunia. Setelah ditanya apa yang menyebabkan hal itu, Bilal menjawab bahwa ia selalu menjaga wudhunya dan senantiasa menunaikan sholat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.

Dengan apa kita akan membeli surganya? Kita belum punya cukup bekal untuk menjadi penghuni-penghuninya. Banyak hal yang masih kurang pada diri kita. Ingatkah kita dengan kisah seorang Abu Dahdah. Abu Dahdah Radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam ,“Wahai Rasulullah, aku memiliki dua kebun. Apabila salah satunya kusedekahkan, apakah kelak aku akan memiliki kebun seperti itu di surga?’
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah Radhiallahu’anhu kembali bertanya, “Apakah istri dan anak-anakku juga akan bersamaku di surga?”
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Benar.”

Abu Dahdah pun membulatkan tekadnya untuk menyedekahkan kebunnya yang terbaik. Sesampainya di kebun itu, ia berjumpa dengan istri dan anak-anaknya. Ia pun menegaskan kepada mereka, “Aku akan menyedekahkan kebun ini. Dengan begitu, aku membeli kebun seperti ini di surga. Adapun engkau, istriku, akan bersamaku dan seluruh anak kita.”

Tiba-tiba saja meneteslah air mata bahagia dari kedua pelupuk mata istrinya yang beriman itu. Istri Abu Dahdah lalu berkata, “Semoga yang engkau jual dan beli diberkati Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai suamiku.” Istri Abu Dahdah kemudian segera memanggil anak-anaknya dan meninggalkan kebun itu karena sudah bukan milik mereka lagi. Akhirnya, kebun itu menjadi milik umat Islam yang miskin.

Kisah diatas dikutip oleh Al-Kalbi dalam tafsirnya saat menjelaskan surah Al-Baqarah ayat 245, “Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjamannya yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah ayat: 245)

Sejauh mana pengorbanan kita untuk meraih janah-Nya? Apakah selama ini kita sudah sangat bersungguh-sungguh meraihnya? Atau justru kita selalu menyia-nyiakan kesempatan untuk itu. Rasa malas yang selalu menggelayuti tubuh saat ingin melakukan amal shalih. Rasa berat hati yang sangat manakala harus meninggalkan kemaksiatan. Lalu di manakah keseriusan kita itu? Apakah keseriusan kita ditunjukkan dengan selalu menunda taubat? Apakah keseriusan kita selalu ditunjukkan dengan selalu menghambur-hamburkan waktu dan kesempatan beramal shalih?

Air mata ini menetes saat menjawab itu semua. Lidah ini kelu tak berdaya saat harus mengakui itu semua. Ternyata kita sungguh tidak berdaya dengan keseriusan kita. Kita mengaku ingin memiliki surgaNya tapi tak ada satu amalpun yang bisa menjadi andalan kita untuk meraihnya.

Allah berfirman “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah : 111)

Jujurlah pada hati, terus teranglah pada diri, apa yang sudah kita lakukan sebagai bukti keseriusan kita itu? Karena kelak bila nyawa sudah tidak di raga, tak ada kesempatan kedua. Hanya ada perhitungan saja. Dan di waktu itu, hanya penyesalan yang ada. Wallohua'lam bishshawab. [muslimdaily.net]