Sakit adalah Wujud Kasih Sayang Allah

Senin, 31 Maret 2014
Seringkali orang sakit merasa dirinya banyak dosa dan Allah marah kepadanya. Padahal bila seseorang sakit justru sebagai penghapus dosa dan meningkatkan derajatnya.

''Sakit itu merupakan wujud kasih sayang Allah karena menghapus dosa,''kata ustazah Eni Harjanti saat memberikan ceramah dalam acara Pengajian dan Doa Bersama Penderita dan Mantan Penderita bersama Paguyuban Relawan Kanker, Paguyuban Penderita dan Mantan Penderita Kanker Yayasan Kanker Indonesia DIY, di Ruang Pertemuan YKI DIY, akhir pekan ini.

Dia mengatakan sakit itu jembatan untuk menuju kemuliaan asal orang yang sakit itu ikhlas. Bagaimana orang itu bisa ikhlas? Yang terutama, orang harus berprasangka baik kepada Allah, bersyukur, introspeksi diri dan pasrah (tawakal), jelas Eni.

Segera Berbuat Baik

Kamis, 27 Maret 2014
Islam memerintahkan pemeluknya untuk bersegera melakukan kebaikan karena ia akan memberikan rasa aman dan membuat hati tenang dan damai. "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran [3]: 133). "Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan." (al-Baqarah [2]: 148).

Agama Islam adalah agama gerak, agama kerja, dan agama aktif. Islam tidak menghendaki para pemeluknya menjadi umat yang lemah, rendah diri, dan menganggur. Dalam spirit Islam, kerja keras demikian terhormat, kerja cepat demikian diapresiasi, dan pasifisme demikian ditentang. Oleh karenanya, Rasulullah sering kali mengingatkan umatnya agar tidak menyia-nyiakan waktu luang yang sering kali tidak banyak disadari bahwa waktu sangat berharga.

Kekosongan yang tidak diisi kebaikan akan terisi oleh keburukan dan kesempatan yang tidak diambil akan segera lepas dari tangan. Allah memberi panduan agar setiap kita setelah usai menunaikan satu aktivitas, maka waktu yang kosong hendaknya diisi dengan aktivitas lain yang berdaya guna. "Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS al-Insyirah : 7).

Berbuatlah karena Allah

Rabu, 26 Maret 2014
Problematika besar bangsa ini sejatinya bermula dari sebuah kerusakan kecil. Seperti peristiwa kebakaran hebat, ia bermula dari percikan api yang kecil. Karena itu, kita harus senantiasa mengantisipasi terjadinya kerusakan kecil agar tidak telanjur makin besar. 
Kerusakan kecil itu ialah ketidakmurnian niat dalam berbuat atau melakukan sesuatu. Islam sangat memperhatikan masalah niat. Niat yang salah (tidak karena Allah) akan menghilangkan pahala dari kebaikan yang dilakukan meskipun amal tersebut tergolong amal saleh yang dicintai Allah dan rasul-Nya. “Se sung guhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi, sekalipun seseorang mampu merangkai kata-kata indah nan memukau atau mampu bekerja keras dengan penuh semangat, tapi tidak diniati karena Allah, sia-sialah semuanya. Niat yang buruk atau niat yang ditumpangi oleh kepentingan nafsu akan menimbulkan perselisih an serius sehingga menyebabkan terjadinya perdebatan, perteng kar an, perkelahian, bahkan permu suh an dan dendam. Oleh karena itu, ber hati-hatilah dalam mengambil sebuah keputusan sebelum bertindak.

Kita harus memastikan secara jernih bahwa yang kita lakukan benar- benar semata-mata karena Allah agar mendapat keridaan-Nya. Jika sudah memastikan bahwa yang kita lakukan adalah murni karena Allah, lalu direspons keliru oleh orang lain, janganlah terprovokasi untuk marah.

Tetaplah tenang dan bersegeralah mengingat Allah. Bahkan jika perlu, mohonkanlah ampun buat orang tersebut dan bermusyawarahlah bersamanya dalam mengambil keputusan. “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS [3]: 159).

Ketika Khalid bin Walid dinonaktifkan sebagai panglima jenderal kaum Muslimin oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalid sama sekali tidak bereaksi negatif, justru ia bersyukur karena Allah telah membebaskan dirinya dari besarnya amanah yang sangat berat. Ketika ditanya oleh sahabatnya perihal penonaktifan dirinya, Khalid menjawab singkat, “Saya berjihad ini karena Allah, bukan karena Umar.” Khalid tetap dalam pasukan meskipun berubah posisi hanya sebagai prajurit biasa.

Sebagai seorang Muslim, sikap seperti itulah yang harus kita pelihara dalam diri kita, yaitu menjaga kemurnian niat dalam berbuat. Jangan sampai hanya karena tidak lagi diberi kesempatan memimpin, lalu langsung meradang dan mencemooh semua orang.

Begitupun bila kita sebagai pemegang kebijakan, hendaknya mengambil keputusan atas dasar niat suci karena Allah yang disertai dengan musyawarah. Jangan sampai membuat keputusan atas dasar kepentingan diri (otoriter), apalagi hanya karena pengaruh pihak lain.
Saat ini dan ke depan, marilah kita tata kembali niat dalam berbuat dan semata-mata hanya mengharap rida Allah SWT. Sekiranya semua umat Islam memahami hal ini dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, akan terbinalah ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam.


Belajar Khusyuk

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

"Ingatlah mati dalam shalatmu, karena apabila seseorang mengingat mati dalam shalatnya, niscaya ia akan bersusah payah memperbaiki shalatnya. Dan shalatlah seperti shalatnya seseorang yang tidak mengira  akan shalat lagi." (HR. Ibn Majah)
     
Hadis Nabi Muhammad SAW tersebut menunjukkan penting dan nikmatnya khusyuk dalam shalat dengan cara mengingat mati dan menjadikan shalat yang dilaksanakan itu seolah-olah merupakan shalat terakhirnya.

Dengan kata lain, shalat yang berkualitas adalah shalat yang dapat menyadarkan pelakunya bahwa ia tidak lama lagi akan mati dan kini sedang shalat wada' (shalat pamitan, selamat jalan). 

Sejalan dengan makna dasarnya, shalat khusyuk berarti shalat yang pelaku berhasil menundukkan hatinya untuk hanya fokus mengingat Allah, merenungi dan memaknai gerak-gerik dan bacaan shalat.
       
Khusyuk yang hakiki, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, adalah kekhusyukan iman yang ada dalam hati Muslim, sehingga memancarkan kekhusyukan perkataan dan perbuatan anggota badan.

Iman yang khusyuk ditandai oleh sikap hati yang penuh pengagungan, ketundukan, kepasrahan, takut, dan malu kepada Allah, sehingga hatinya dipenuhi rasa cinta dan rindu kepada-Nya.

"Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka." (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2).

Keberuntungan spiritual ini hanya dapat diwujudkan oleh Mukmin yang shalatnya mampu menghadirkan dialog spiritual dengan Allah SWT, dan mampu menghentikan komunikasi dengan segala urusan dunia dan urusan personal di luar shalat.

Itulah shalat yang menenteramkan jiwa dan menjadikan shalat itu bermakna: bermuara pada penjauhan diri dari perbuatan keji dan munkar (QS. al-Ankabut [29]: 45).
    
Khusyuk dalam shalat itu nikmat, karena hamba dapat curhat langsung dengan Sang Maha Kasih (Allah). Sayangnya, nikmatnya khusyuk tidak selamanya dapat dinikmati oleh semua orang yang shalat, karena berbagai sebab.

Di antaranya adalah peshalat tidak menyempurnakan wudhunya, pakaian dan tempatnya tidak suci, isi perutnya tidak halal, fisiknya shalat tapi hatinya tidak ikut hadir dalam shalat.

Yang diingat justru selain Allah, shalatnya terburu-buru, tidak konsentrasi, dan tidak dibarengi pemahaman terhadap pesan-pesan moral dan sosial shalat.
       
"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (QS. Al-Ma’un [107]: 4-5). Dalam hal ini, orang yang tidak dapat merasakan nikmatnya khusyuk berarti termasuk orang yang mendustakan agama.

Pendusta agama itu hanya menjadikan agama sekadar formalitas, tanpa spiritualitas dan moralitas luhur yang termanifestasikan dalam amal sosial yang nyata.
       
Jika kita selalu belajar khusyuk dalam shalat dan belajar menikmati spiritualitas shalat, maka dengan sendirinya kita tidak akan pernah tergoda untuk melakukan perilaku yang tidak bermoral, seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, miras, pornoaksi, dan aneka kemaksiatan lainnya.

Belajar khusyuk dalam shalat dan menikmatinya sebagai menu spiritual harian kita dapat memandu jalan hidup kita untuk selalu membersihkan diri (tazkiyatun nafs), memaksimalkan dedikasi, dan meningkatkan integritas diri di manapun dan kapanpun.
    
Karena itu, evalusi terus-menerus terhadap kualitas shalat kita menjadi sangat penting. Belajar merasakan nikmatnya khusyuk dalam shalat perlu dimulai dari kesiapan hati kita untuk mau mendengar dan meresponi panggilan Allah (azan) dengan penuh rasa syukur, rasa rindu, dan rasa cinta bertemu dengan Sang Kekasih.

Sabda Nabi SAW: "Tiada seseorang yang merasa dipanggil untuk menunaikan shalat fardhu, lalu ia memperbaiki wudhu, khusyuk dan rukuknya, melainkan shalatnya itu menjadi penghapus dosa setahun sebelumnya, selama ia tidak mempunyai dosa besar." (HR. Muslim)
    
Agar dapat belajar merasakan nikmatnya khusyuk, ada baiknya kiat-kiat shalat dengan khusyuk yang diberikan oleh Imam al-Ghazali berikut kita coba aktualisasikan.

Pertama, bersihkan hati, pikiran, dan anggota badan agar jiwa siap menghadap dan mendekat kepada Yang Mahasuci.

Kedua, agungkan dan hanya ingat Allah dan ingat mati selama shalat, sehingga semua urusan keduniaan yang ada di luar shalat itu dikesampingkan dan dianggap kecil. Hanya Allah saja yang Maha Besar.

Ketiga, konsentrasi dan pahami makna semua bacaan dan gerak-gerik shalat. Makna gerakan dan bacaan shalat penting dipahami dan dihayati sepenuh hati, agar pesan moral shalat dapat ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, takut dan malu kepada Allah jika shalat yang dilaksanakan tidak sempurna, apalagi tidak diterima. Perasaan takut dan malu ini harus dimaknai secara positif, sehingga kita melaksanakan shalat dengan serius sekaligus tulus.


Bertasbihlah

Selasa, 25 Maret 2014
Oleh: Mahmud Yunus

Allah SWT berfirman, “Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS al-Hadid [57] : 1 - 2).

Firman lainnya menyebutkan, “Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan, Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS Ali Imran [3] : 26 -27). Subhanallah.

Mari kita renungkan firman Allah itu. Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Mana buktinya? Dalam sebuah hadis yang cukup panjang, Abu Dzar menceritakan dia pernah meminta izin Rasulullah untuk menyendiri di suatu tempat.

Sebelum berangkat, dia sempat menanyakan keberadaan khadam atau pelayannya. Pelayan itu sedang berada di rumahnya. Abu Dzar bergegas menemuinya. Ternyata, pelayan itu sedang duduk bersandar pada sebuah sandaran. Sendirian.

Anehnya, ujar Abu Dzar, dia seakan-akan tengah tergesa-gesa. Lalu, dia mengucapkan salam dan dijawab olehnya sebagaimana mestinya. Pelayan itu bertanya kepada Abu Dzar, “Atas izin siapa kamu datang kemari?” Dia menjawab, “Atas izin Allah dan Rasul-Nya.”

Pelayan itu mempersilakan Abu Dzar duduk. Dan, Abu Dzar duduk di sampingnya. Baru saja Abu Dzar duduk, Abu Bakar datang dengan tergopoh-gopoh. Abu Bakar mengucapkan salam dan dijawab oleh dia sebagaimana mestinya.

Tidak lama berselang, Umar bin Khaththab datang, kemudian Utsman bin Affan pun datang. Pelayan itu bertanya, “Atas izin siapa kalian datang kemari?” Abu Bakar, Umar, dan Utsman menjawab, “Kami datang kemari atas izin Allah dan Rasul-Nya.”

Lalu, Rasulullah pun datang. Dan, kisah yang menakjubkan dimulai. Beliau bersabda, “Mengapa sedikit sekali makanan yang tersisa ini?” Mendengar ungkapan itu semua sahabat diam saja karena tidak mengerti maksudnya.

Tiba-tiba beliau mengambil kira-kira enam butir kerikil. Kerikil itu sekonyong-konyong bertasbih di tangan Rasulullah hingga terdengar oleh pohon-pohon kurma di sekelilingnya. Masing-masing satu butir kerikil dipindahkan ke tangan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Dan, subhanallah, kerikil itu bertasbih di tangan mereka. Semua yang hadir terdiam menyaksikan mukjizat itu. Takjub, luar biasa. Di dalam sejumlah hadis dinyatakan, keutamaan bertasbih sangat luar biasa.

Rasulullah bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat dalam timbangan dan (kalimat) itu dicintai oleh Ar-Rahman (Allah yang Maha Pemurah), yakni 'subhanallah wa bihamdihi, subhanallahi al-adhimi'.” (HR Bukhari dan Muslim).

Beliau bersabda, “Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu berbuat seribu kebaikan setiap hari? Lalu, ada seseorang dari sahabat itu bertanya kepada beliau: Bagaimana caranya seseorang di antara kami dapat berbuat seribu kebaikan setiap hari? Beliau bersabda: Dia membaca tasbih (subhanallah) seratus kali. Maka, baginya akan dicatat seribu kebaikan atau baginya akan dihapus dari padanya seribu kesalahan.” (HR Muslim).

Beliau bersabda, “Barang siapa membaca 'subhanallah wa bihamdih' seratus kali dalam sehari, akan dihapus dosa-dosanya sekali pun sebanyak buih di laut.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada kesempatan lain beliau bersabda, “Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat macam. Terserah kalian mau mulai dari mana saja pun boleh, yakni subhanallah, alhamdulillah, la ilaha ilallah, dan allahu akbar.'' (HR Muslim).

Sebagai manusia sudah semestinya kita bertasbih kepada Allah. Bagaimana tidak? Sedangkan semua yang berada di langit dan di bumi bahkan kerikil pun bertasbih kepada-Nya.



Rahasia Ihklas

Senin, 24 Maret 2014
Ikhlas artinya murni. Dalam bahasa Arab air murni disebut dengan almaa’ul khalish. Bila air itu dicampur teh maka disebut al-syaai.  Bila dicampur kopi disebut al-qahwah. Amal yang ikhlas artinya amal yang murni untuk Allah. Bila sedikit ada acampuran kepentingan maka amal itu menjadi tidak murni lagi. Dengan kata lain, keikhlasannya berkurang atau dianggap tidak ikhlas.

Ada beberapa kaidah penting untuk mengukur ikhlas tidaknya sebuah amal: Pertama, bahwa amal dikatakan ikhlas bila memenuhi dua syarat: shihhatun niyyah (niatnya benar karena Allah) dan shihhatul amal (amalnya benar sesuai dengan tuntunan). Bila hilang salah satunya maka amal menjadi tidak ikhlas.

Contoh, seorang shalat Subuh dengan niat ikhlas, namun dia dengan sengaja menambah rakaatnya menjadi empat rakaat. Maka, shalat tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan. Karenanya, dalam beramal tidak cukup sekadar niat, melainkan juga harus benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, niat baik tidak bisa mengubah perbuatan maksiat menajdi baik. Contoh seorang mencuri dengan niat baik untuk membiayai anaknya sekolah. Maka, perbuatan tersebut tetap dosa. Contoh lain lagi seorang berzina dengan niat ingin membahagiakan pacarnya. Ini tetap dosa besar. Seorang merampok dengan niat membantu fakir miskin, ini juga haram. Seorang membuka aurat di depan umum dengan niat menghibur orang lain, ini dosa.

Ketiga, niat buruk bisa membuat amal baik menjadi buruk. Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa kelak di hari kiamat akan ada tiga orang yang dibangkitkan lalu masing-masing ditanya mengenai nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka.

Seorang yang diberi harta banyak, lalu Allah tanya kapadanya mengenai harta tersebut. Dia menjawab bahwa harta tersebut telah diinfakkan dalam kebaikan dengan niat karena Allah. Lalu Allah menjawab, “Kamu bohong, kamu lakukan itu dengan niat ingin dibilang dermawan.” Lalu Allah perintahkan malaikat agar menyeretnya ke neraka.

Lalu seorang yang diberi keahlian belajar dan mengajarkan Alquran. Allah bertanya kepadanya menganai nikmat Alquran. Dia menjawab bahwa telah mengajarkannya karena Allah. Allah menolak,  “Kamu bohong, kamu lakukan itu dengan niat agar dibilang seorang qari atau alim.” Lalu Allah perintahkan malaikat agar menyeretnya ke neraka.

Dan, seorang yang diberi kekuatan fisik dan keberanian untuk berperang. Ketika ditanya oleh Allah mengenai nikmat tersebut, dia menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu ya Allah sehingga aku mati syahid.” Allah menjawab, “Kamu bohong, kamu lakukan itu agar dibilang pemberani. Lalu Allah perintahkan malaikat agar menyeretnya ke neraka.”

Kita paham bahwa ikhlas bukan sekadar ucapan penghias bibir, melainkan amal yang lahir dari kejujuran iman. Karenanya, para ulama mengatakan siapa yang mengatakan “aku ikhlas” maka itu perlu diikhlaskan lagi. Dan siapa yang pernah ikhlas walaupun sejenak maka itu sudah cukup sebagai bukti kejujuran iman. Wallahu a’lam.


Sayangi Ibu

Minggu, 23 Maret 2014
Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah. Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan. Namun, Rasulullah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Maha Penyayang). 

Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thufail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pemimpin suku tersebut. Setelah masuk Islam, pemuda ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi. 
Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis. “Mengapa engkau menangis wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam. 

Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak.” 
Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.” 

Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!” Ibunya menjawab dengan lembut, “Waalaikassalam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.” 


Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “rahimakillahu kama rabbaytini shaghira”(semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil). Ibunya mem ba las doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa). 
Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Ba pakku”, jawab anak muda itu. 

Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

Bekerjalah Kamu

Rabu, 19 Maret 2014
Oleh Dedi Nugraha
 
Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya dan orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Dan kamu dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui hal gaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu yang telah kamu kerjakan.” (QS at-Taubah: 105).

Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk bekerja dan beramal. Ditinjau dari sisi kesehatan, bekerja membuat kita sehat. Otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur.

Otak dan saraf bekerja mengoordinasikan organ dan anggota tubuh pada fungsi dan perannya masing-masing. Kelenjar keringat bekerja mengeluarkan zat-zat buangan. Jantung berpacu dalam ritme normal, sehingga menjalankan fungsinya dengan baik.

Dari sisi agama, bekerja adalah ibadah. Karena, bekerja atau beramal adalah proses optimalisasi potensi yang dimiliki untuk memakmurkan bumi dan membuat kemaslahatan hidup.

Allah SWT berfirman, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS Huud: 61). Bahkan, bagi seorang mukmin, bekerja bukan sebagai pemenuhan kewajiban atau tuntutan hidup semata. Bekerja juga merupakan bentuk syukur kepada Allah.

Allah SWT berfirman, “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS Saba: 13).

Ketika malas bekerja, enggan beramal, hakikatnya kita tidak bersyukur atas karunia yang telah Allah limpahkan kepada kita. Bukankah Allah telah memberi kita badan yang kuat dan jasmani yang sehat; mengapa kita tidak menggunakannya untuk beramal?

Bukankah itu berarti kita tidak bersyukur atas potensi yang Allah berikan? Allah telah menyediakan segala sarana hidup yang teramat banyak; mengapa kita tidak mau mengolahnya untuk menghasilkan kemanfaatan?

Bukankah itu berarti kita tidak bersyukur atas segala sarana yang telah disediakan Allah? Para nabi kekasih Allah pun adalah orang-orang yang mencintai kerja. Mereka adalah orang-orang yang giat bekerja.

Padahal, mudah saja bagi Allah membuat mereka kaya raya tanpa harus bekerja. Tetapi, inilah nilai tarbiah bagi kita dalam bekerja ada kemuliaan. Rasulullah SAW juga seorang yang sejak muda sudah bekerja keras.

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan dia menggembala kambing.” Ketika para sahabat bertanya, “Dan engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya, aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR Imam Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun memakan sesuatu yang lebih baik daripada memakan hasil kerjanya sendiri. Dan, Nabi Daud makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Imam Bukhari).

Dalam hubungannya dengan pewarisan antargenerasi, semangat bekerja inilah yang sepatutnya kita wariskan kepada anak-cucu kita. Semangat dan cinta kerja dalam pengertian yang luas. Bekerja dalam arti beramal saleh dan berbuat baik.

Bekerja dalam pengertian menebarkan kebajikan, memperbanyak kebaikan, dan mengajak orang lain untuk bersama-sama berbuat baik. Wallahu alam bish shawab.


Biar Sedikit Tapi Halal

Dalam suatu perjalanan dakwah ke suatu daerah, seorang ustaz dijemput ke bandara dan diantar ke beberapa tempat acara menggunakan mobil panitia dari salah satu perguruan tinggi swasta. Dalam suatu kesempatan, sang ustaz sempat berbincang dengan sopir kampus yang tampak masih muda. Badannya tinggi tegap, sikapnya sopan dan ramah. “Sudah berkeluarga, Dik?” sapa sang ustaz. “Sudah, Pak. Alhamdulillah sudah punya dua anak,“ ujarnya. 

Walaupun dia membawa mobil agak cepat, tetapi tetap penuh waspada. Dia tidak pernah menyalip mobil lain secara sembarangan. Memastikan lebih dahulu bahwa jalur yang berlawanan kosong. Sang ustaz kembali bertanya untuk sekadar ingin tahu apakah dia sudah lama bekerja di kampus itu. “Belum, Pak, baru dua tahun,“ jawabnya singkat sambil tetap konsentrasi. “Sebelumnya kerja di mana?” selidik sang ustaz. 

“Saya bekerja di sebuah kota pelabuhan di Jawa, Pak. Kerja dengan paman, mengisi bahan bakar untuk kapal-kapal barang. Penghasilannya besar Pak, tapi …” ujarnya seakan ragu untuk melanjutkan. 

Sang ustaz jadi penasaran, ingin tahu mengapa dia meninggalkan pekerjaan yang penghasilannya besar itu. Padahal sang ustaz tahu, jadi sopir kampus yang tidak besar, paling tinggi gajinya sedikit di atas UMR. “Uangnya banyak Pak, tetapi tidak halal. Paman saya suka kongkalikong dengan kapten kapal,” ujarnya. 

Ia akhirnya bercerita soal pekerjaannya. Menurut dia, bahan bakar yang diisikan tidak sebanyak yang ditulis di faktur. Selisihnya banyak. Sebagai petugas pengisian, dia tahu permainan itu. Sudah tentu, dia akan dapat bagian setiap pengisian selesai. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah. 

Namun demikian, dengan penghasilan yang sangat besar itu, dia tidak tenang. Hidupnya selalu dihinggapi perasaan bersalah. Dia gelisah. Dia pun menanyakan soal itu kepada pamannya dan sang paman mengakui bahwa itu tidak halal. Untuk membersihkan uang itu, sang paman mencoba bersedekah. “Uang haram tidak bisa dibersihkan dengan uang haram juga,” kata sang ustaz mengingatkan.

Nabi Muhammad SAW menyatakan, yang kotor tidak bisa membersihkan yang kotor. Sopir muda itu membenarkan ucapan sang ustaz. “Memang Pak, saya juga meyakini demikian. Tetapi, paman saya yakin sekali dosa-dosanya menipu pemilik kapal akan diampuni dengan banyak menyumbang. Bahkan Pak, tahun lalu paman saya bangun masjid sendiri di kampung dengan uang haram itu.“ 

Akhirnya, setelah mengetahui semua itu, sopir muda ini pun meninggalkan pekerjaannya. Ia tidak ingin perbuatan itu terus berlangsung dan menipu orang. Ia pun sudah mencoba beberapa pekerjaan, namun belum berhasil sehingga dia sementara bekerja sebagai sopir. “Sekalipun gajinya kecil, tetapi kan halal Pak. Sedikit tetapi membawa ketenangan, dan berkah,“ ujarnya. 

Hebatnya lagi, walau dengan gaji kecil, tapi keluarganya menerimanya. Demikian juga istri dan anak-anaknya. “Alhamdulillah, istri saya sependapat dengan saya, biarlah kita hidup sederhana sekali, tetapi hati tenang, anak-anak juga dihidupi dengan rezeki yang halal.” 
Saat ini, yang menjadi pikirannya adalah sang paman. Ia ingin pamannya bertobat dan menyadari kekeliruannya. “Semoga paman segera mendapatkan hidayah,” harapnya. 


Muhasabah

Selasa, 18 Maret 2014
Oleh Achmad Sjamsudin
  
Melakukan evaluasi diri atau muhasabah memang merupakan tuntunan Islam. Hal itu diungkapkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr [59]: 18).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, suatu siang para sahabat sedang bersama Rasulullah SAW. Lalu, datanglah suatu kaum yang keadaannya sangat mempri hatinkan. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat mereka. Rasul masuk, kemudian keluar, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan azan dan ikamah.

Rasul pun shalat dan kemudian berkhutbah: "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu ...." (QS An-Nisaa' [4]: 1). Dan, beliau membaca ayat: "... dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)...." (QS Al-Hasyr [59]: 18).

Seketika itu, seorang sahabat langsung menyedekahkan dinar, dirham, baju, dan kurmanya. Kemudian, secara berturut-turut diikuti oleh para sahabat yang lain, hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit. Melihat pemandangan yang menyenangkan itu, wajah Rasulullah berbinar-binar.

Lalu, beliau bersabda bahwa siapa yang berbuat baik dia akan mendapat pahala dari perbuatannya dan juga pahala dari orang yang mengikuti kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu. Demikian sebaliknya ketika seseorang berbuat jelek (HR Muslim).

Dari riwayat yang amat inspiratif tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan ayat `... dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) ..." tersebut mengandung pengertian: "perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, dan perhatikanlah amal saleh apa yang sudah kalian simpan untuk akhirat dan untuk menghadap Tuhan."

Jadi, muhasabah adalah menghitung diri atau bertanya kepada diri sendiri tentang amal saleh yang akan menjadi bekal dalam perhitungan (hisab) Allah SWT pada hari kiamat nanti.
Sebagaimana dialami para sahabat dalam kisah inspiratif di atas, muhasabah akan langsung meng gerakkan kita untuk bersegera mengukir amal saleh atau prestasi. Sebab, dengan muhasabah, kita akan menyadari kebutuhan kita terhadap amal saleh. Bahwa kita sangat membutuhkan amal saleh untuk bekal di akhirat kelak.

Oleh karena itu, marilah pada Tahun Baru 1432 H ini atau 2011 M nanti, kita semua melakukan muhasabah. Kita bertanya pada diri masing-masing, amal saleh apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat kita. Sebab, dengan muhasabah itu, kita akan optimistis menghadapi tahun baru. Dan, optimisme itu muncul tiada lain karena karya nyata yang lahir dari kegiatan muhasabah. Wallahu a'lam.


Ayah : Sahabat Tumbuh Kembang Anak

Copas twit Bendri Jaisyurrahman

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak

3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'

29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan. Salam bahagia. 

(Bendri Jaisyurrahman)

Keluarga Penghuni Surga

Senin, 17 Maret 2014
Sore itu, saya dan seorang teman sedang mampir di sebuah warung es kelapa di pinggir jalan. Bukan rasa haus yg membuat kami singgah disitu. Apa alasannya, saya sendiri belum mengerti.

Disana terlihat seorang pria sedang duduk menikmati es kelapa. Sedang pemilik warung itu adalah sepasang suami-istri asal Medan, yg saya duga dari logat bicara mereka. Kami berdua pun memesan es kelapa.

Tak lama, datanglah seorang bocah berusia kira-kira sekitar 7 tahun. Bocah itu mendekati kedua pemilik warung sambil cium tangan. Bocah itu mengenakan peci putih dan baju koko, sepertinya ia baru usai mengaji.

Pria yg datang sebelum kami bertanya, "Ini anak bapak?"
 
Pertanyaan itu dibenarkan oleh penjual es kelapa.

Pria pembeli lalu menyapa si bocah, "Habis pulang ngaji ya?"
 
Anak itu mengangguk.

"Ngajinya sudah sampai surat apa, nak?", tanya pria tadi.
 
"Surat Al-Mulk", jawab anak itu singkat.

Mendengar jawaban bocah itu, saya dan teman mulai tertarik dan pasang telinga, karena anak usia 7 tahun sudah belajar ngaji sampai surat al-Mulk, surat yg ke-67. Pada saat yg sama, kedua mata ini mendapati mimik bangga yg tersirat di wajah kedua orang tuanya yg berpofesi sebagai penjual es kelapa.

Pria tadi bertanya lagi, "Apakah kamu hafal surat A-Mulk?"
 
Anak itu menjawab dengan anggukan!

"Apakah boleh bapak test hafalanmu?", tanya pria tadi kepada sang bocah. Lagi-lagi si bocah menjawab dengan anggukan.

Pria itu lalu membaca penggalan awal ayat ke 16 dari surat Al-Mulk dan meminta bocah tersebut untuk melanjutkannya. Bocah itu membaca dengan fasih ayat ke-16 :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ...

Saya dan teman mulai colek2an menikmati tontonan menakjubkan dan gratis ini. Saya pun melihat kedua orang tuanya tidak hanya menikmati, namun ada gurat rasa bangga di wajah mereka.

"Subhanallah.. boleh saya minta kamu baca satu ayat lagi?!", pinta pria tadi.
Anak itu pun tanpa sungkan membaca ayat lanjutannya. Tatkala ayat ke-17 usai dibaca oleh sang bocah, maka kami semua bertasbih memuji Allah dengan suara yg lebih keras.

Pria tersebut pun mengeluarkan uang dari sakunya. Ia berujar, "Aku ingin memberi hadiah untukmu sebab kamu sudah hafal surat Al-Mulk!"

Pria itu memberi selembar uang pecahan Rp 10.000 kepada si bocah dan ia pun langsung cengengesan kegirangan. Tak lama berselang, pria itu menambahkan pemberiannya. Kali ini ia berikan pecahan Rp 100.000. Dan bocah itupun bertambah girang.

"Kalau anaknya sudah hafal surat Al-Mulk, pasti kedua orang tuanya lebih banyak lagi hafalannya", ujar pria tadi kepada penjual kelapa.

"Hhhuuufff... Boro2 hafal paaak, baca Al-Quran saja kami berdua tidak bisa!", jawab ayah dari bocah tadi.

"Insya Allah kalian berdua bisa masuk surga sebab anak ini yg menghafal Al-Quran. Namun saat di surga, mungkin kepala kalian selalu menengadah ke atas. Sebab surga anak ini pasti jauh lebih tinggi kedudukannya dibanding kalian. Bila kalian mau bersama2 di akhirat kelak, maka rajinlah membaca dan menghafal Al-Quran!", pria itu menyudahi taushiyah singkatnya.

Kedua orang tua bocah tadi menganggukkan kepala tanda setuju.

Saya dan teman pun bangkit dari duduk untuk membayar es kelapa yg telah kami minum. Pria pembeli tadi berkata, "Maaf bapak2, izinkan saya mentraktir kalian berdua. Saya amat bahagia hari ini".

Kami berdua saling pandang lalu kami mengangguk dan berterima kasih kepadanya.

"Berapa semua harga es kelapa ini, pak?", tanya pria tadi kepada bapak penjual.

"Tiga gelas Rp 21.000 saja", jawabnya.

"Wah.. ini luar biasa. Alhamdulillah, harga surat Al-Mulk lebih mahal dari es kelapa. Ini baru benar!", kata pria tadi.

Saya dan teman lalu berpamitan. Saat motor yg saya kendarai meninggalkan warung tadi, Allah SWT izinkan mata ini melihat sebuah pemandangan yg teramat indah. Disana terlihat ibu-bapak penjual es kelapa tadi tengah membelai kepala anaknya yg telah hafal surat Al-Mulk.

Dalam hati saya tersirat makna bahwa anak itu telah membuat kedua orang tuanya bangga dihadapan makhluk saat di dunia. Saya yakin, anak itu pun akan membuat bangga kedua orang tuanya di akhirat di hadapan Allah Sang Khalik, sebab hafalan Al-Quran yg dimilikinya.

Saya pun berdoa dengan gumam dalam hati, "Ya Allah.. muliakanlah aku, keluargaku dan orang tuaku dengan cahaya Al-Quran"

Segala puji bagi-Mu, ya Allah atas hadiah tontonan indah sore itu.

Subhanallah....

Marilah kita berdoa, bermunajat kepada Allah. Semoga Allah mengampuni kita, dan menghapuskan kita dari segala dosa yang telah lalu.
Ya Allah,
 
Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat.

Aamiin ya Rabbal'alamin

Apa yang Kau Cari ?

Minggu, 16 Maret 2014
Sudah di gunung, pantai kau rindukan.
Sudah di pantai, gunung yang kau inginkan.
Saat kemarau, kau tanya kapan akan hujan.
Saat di beri hujan, kemarau kau tanyakan.

Sudah tenang di rumah, pengen pergi.
Begitu pergi, kau ingin ke rumah kembali.
Sudah dapat ketenangan, keramaian kau cari.
Keramaian kau temukan, ketenangan kau rindui.

Apa yang sebenarnya kau cari?
Belum berkeluarga mencari istri/suami.
Sudah berkeluarga, mengeluh anak belum diberi.
Dapat anak, mengeluh lagi kurang rejeki.

Ternyata sesuatu tampak indah karena belum kita miliki.

Kapankan kebahagaiaan akan didapatkan?
Kalau yang belum ada selalu kita pikirkan,
Sedang yang diberi Allah kita abaikan?
Bukankah telah banyak yang kau dapatkan?

Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR
Karena kesyukuran akan membuatmu subur.

Mungkinkan selembar daun dapat menutup bumi?
Sedang kau tak bisa menutup telapak tangan sendiri.
Tetapi saat selembar daun kecil menempel di mata,
Maka bumi yang luas seperti tertutup semua.

Begitu pula jika hatimu ditutupi keburukan.
Seolah-olah yang tak cocok denganmu selalu kejelekan.
Seluruh bumi seolah tak ada kebaikan.
Padahal letaknya cuma hatimu yang ketutupan.

Jangan tutup matamu dengan daun kecil.
Jangan tutup hatimu dengan kotoran secuil.
Syukuri nikmat Allah, meski kelihatan mungil.
Terus istiqomah dengan sunnah, maka kelak kau berhasil.

Bila buruk hatimu, buruk pula akhlaqmu.
Bila tertutup hatimu, tertutuplah segala sesuatu.
Syukurilah semua apa yang ada padamu.
Dari ditu engkau memuliakan dirimu.

Belajarlah berterimakasih kepada Allah Ta'ala.
Sebagai modal untuk memuliakan-Nya.
karena hidup adalah "waktu yang dipinjamkan".
Dan harta adalah "Anugerah yang dipercayakan".


Kemana Perginya Doa ...

Kamis, 13 Maret 2014
Ketika berharap uang, ternyata yg datang hutang
Saat memohon kemudahan, yg hadir justru kesulitan
Ketika doakan kesehatan, yg hampiri penyakit

Jangan kau tanya mengapa Allah tak kabulkan doamu
Jangan kau paksa kapan Allah ijabahkan doamu

Jangan kau heran mengapa Allah abaikan doamu
Tapi, tanyakan seperti apa tubuhmu bicara 
Tanyakan seperti apa hatimu berkata

Apa Subuhmu menjelang dhuha?
Apa Dhuhurmu sisa waktu bisnis yg kau punya?
Apa Ashar-Maghrib-mu terlalu dekat waktunya?
Apa Isya-mu terlewat karena lelah yg ada?

Jangan salahkan Allah,
Bila kau kira bisa bebas berbuat dosa, lalu diputihkan dengan Umroh tiap tahun....
Jangan salahkan Allah, Jika ayat suci hanya kau pilih beberapa....

Surat Yusuf agar memdapatkn putra ganteng nan soleh,
Surat Maryam agar memperoleh putri nan cantik solehah,
Surat Ar-Rahman agar berlimpah rezeki....

Jangan salahkan Allah, 
Bila ayat-ayat-Nya tak pernah dibaca atau diamalkan dalam kehidupan nyata....
Jika titah Allah hanya beban,

Bila urusan Allah cuma dagang....
Jangan harap kecintaanNya akan datang....

Duhai Allah....

Jagalah kami dari hal-hal demikian
Satukan kami dalam ikatan cinta utk saling mengingatkan... 
akan keberadaan & kewajiban kami kepada-Mu....

Allah selalu menepati janji-Nya. 
Kitanya saja yang tidak percaya akan janji-janji-Nya.


Everybody's Changing

Rabu, 12 Maret 2014
Keshalehan seseorang tidak bisa kita nilai dari pakaian yang ia pakai, tulisan yang ia tulis, perkataan yang ia ucapkan. Hanya Allah yang tahu siapa yang sebenar-benarnya shaleh. Namun setidaknya ada satu hal yang bisa menjadi tolok ukur keshalehan seseorang.

Akhlak, karena akhlak adalah cerminan jiwa. Akhlak adalah respon spontan seseorang terhadap sesuatu. Bagaimana saat ia mendapatkan ujian? Bagaimana saat ia mendapatkan kebahagiaan?

Orang yang berakhlak baik dan mulia, InsyaAllah ia adalah orang yang shaleh. Orang yang shaleh maka InsyaAllah ia akan berakhlak baik dan mulia. Setiap orang mempunyai hak untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang shaleh dan shalehah.

Manusia selalu menemukan hal baru setiap harinya.

Seseorang yang berprinsip A, satu hari kemudian, satu minggu kemudian, atau satu tahun kemudian bisa jadi dia berubah menjadi seseorang yang berprinsip B. Seseorang yang bermimpi C, satu hari kemudian, satu minggu kemudian, atau satu tahun kemudian bisa jadi dia berubah menjadi seseorang yang bermimpi D. Seseorang yang berprilaku E, satu hari kemudian, satu minggu kemudian, atau satu tahun kemudian bisa jadi dia berubah menjadi seseorang yang berprilaku F.

Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya ilmu, pengetahuan, dan wawasan, maka manusia akan berubah. Selama manusia terus belajar dan mengamalkannya maka ia akan terus berubah. Tentu perubahan itu tidak lepas dari apa yang kita pikirkan dan lakukan hari ini. Kitalah yang memilih, berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya? Manusia yang beruntung tentu perubahannya ke arah yang lebih baik. 

Kita-kah salah satunya?

Merenungi Nikmat-Nya

Selasa, 11 Maret 2014
Di sebuah negeri Arab, ada seorang yang sudah sepuh, usianya sudah menginjak 80 tahun. Umumnya orang-orang yang sudah berumur, banyak penyakit yang datang silih berganti, tidak terkecuali sang kakek mengidap penyakit kanker prostat yang cukup parah.

Pada suatu hari ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan urinnya. Anak-anaknya pun membawanya ke rumah sakit agar segera ditangani oleh dokter. Kakek tua itu langsung diperiksa oleh dokter dan diupayakan agar masalahnya bisa teratasi.  Alhamdulillah, para dokter bisa mengatasi masalahnya, ia bisa mengeluarkan urinnya dan berkuranglah rasa sakitnya. Anak-anaknya menemui dokter yang mengobati ayah mereka, mereka mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan para dokter.

Setelah itu, anak-anak kakek ini kembali menemui ayah mereka untuk menghibur dan menenangkan hatinya. Namun mereka melihat ayah mereka sedang tenggelam dalam deraian air mata. Lalu mereka mengatakan, " Wahai ayah, rasa sakit yang engkau rasakan telah hilang, mengapa ayah menangis?"

Kakek tua itu menenangkan diri dari tangisnya, lalu menjawab, "Dokter itu hanya menolongku dalam satu kali kesempatan saja, tapi kita benar-benar merasakan kebaikannya, dan kita benar-benar sangat berterima kasih kepadanya. Aku teringat Allah Ta'ala, yang selama 80 tahun ini aku benar-benar dibuai dengan kenikmatan yang Dia berikan kepadaku. Dengan kedermawanan dan kebaikan-kebaikan-Nya, sampai-sampai perkara yang tidak aku minta pun Dia berikan untukku, namun betapa kurang rasa syukurku kepada-Nya".

Demikianlah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dalam kandungan ibu kita hingga usia kita saat ini. Banyak kenikmatan yang Allah berikan, bahkan terkadang kita tidak memintanya, dan kita tidak tahu akan mendapatkannya, namun Allah berikan kepada kita lalu kita bahagia dengan kenikmatan yang tidak disangka-sangka itu.

Sampai Imam Ibnu Qayyim menggambarkan jika saja kita benar-benar menyadari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita niscaya kita akan sngat mencintai-Nya dan ketika kita benar-benar menyadari nikmat-Nya, hati kita akan tersyat-sayat betap kita selama ini tidak berterima kasih kepada-Nya.

Lebah dan Lalat

Senin, 10 Maret 2014
Mengapa lebah cepat menemukan bunga sedangkan lalat cepat menemukan kotoran?
Karena naluri lebah hanya untuk menemukan bunga sedangkan naluri lalat hanya untuk menemukan kotoran.

Lebah tidak tertarik pada kotoran. Sebaliknya, lalat tidak tertarik pada harum dan keindahan bunga. Alhasil lebah kaya akan madu sedangkan lalat kaya akan kuman penyakit.

Mengapa sebagian orang menjadi jahat dan sebagian orang menjadi baik?
Karena orang jahat tidak tertarik pada hal-hal yang baik, sebaliknya bila ada hal-hal yang jahat, menyakiti, gosip, bohong, permusuhan, mereka jadi begitu bersemangat untuk menyebarkannya. Meraka orang-orang yang mudah diprovokasi tanpa pikir panjang langsung bereaksi.

Orang baik adalah orang yang tidak tertarik dan tak mau merespon akan hal-hal buruk, menyakiti, isu yang tak jelas, semua hal yang berbau kejahatan yang sekalipun dilapisi isu agama. 

Apa yang dilihat akan menghasilkan apa yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan akan menghasilkan apa yang diperoleh. Hidup ini sangat bergantung dengan hati dan pikiran. Jika hati dan pikiran selalu negatif maka apa saja yang dilihat akan selalu negatif dan hasilnya adalah penderitaan, sakit hati, kecewa, dan iri hati.

Ingin bahagia ?

Mulailah hari ini dengan hati dan pikiran yang selalu positif maka apa saja yang dilihat akan selalu positif dan hasilnya adalah kebahagiaan. 

Mau jadi lebah atau lalat, pilihan ditangan Anda.

Pahit Manis Kehidupan ...

Minggu, 09 Maret 2014
Ketika jatuh cinta kamu sibuk belajar mencintai dan ketika kehilangan kamu baru kebingungan bagaimana cara melupakannya.

Hidup tidak hanya belajar tentang memberi yang terbaik tapi juga harus mau belajar menerima yang terburuk.

Jangan hanya siap merasakan yang nikmat tapi juga harus siap merasakan yang paling menyayat.

Jangan hanya siap merasakan yang manis tapi juga harus siap merasakan yang paling pahit sebagai obat.

Sahabat, tidak semua mimpi kita jadi nyata dan tidak semua harapan kita tercapai.

Pahit, manis , getir, kebahagiaan, kesedihan, kecewa, dikhianati dan semua rasa yang ada adalah sebuah bentuk pelajaran hidup yang pasti akan kita rasakan satu persatu.

Itulah mengapa setiap bayi yang baru saja terlahir harus menangis ...

Karena hidup ini tidak lain hanyalah proses seleksi siapapun yang paling kuat merasakan pahit dalam keikhlasan adalah dia yang akan terpilih menjadi kekasih-Nya dan akan dimasukkan ke dalam surga-Nya .....

Ukuran Sukses Seorang Ayah

Kamis, 06 Maret 2014
Saudaraku ....

Statistik membuktikan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih sayang dari Ayahnya, pada umumnya akan tumbuh dengan kelainan perilaku. Kecenderungan bunuh diri dan menjadi kriminal yang kejam. Sekitar 70% dari penghuni penjara dengan di hukum seumur hidup adalah orang-orang yang tumbuh tanpa Ayah.

Wahai para Ayah ... Anda dibutuhkan dan dirindukan oleh anak-anak Anda.

Janganlah Anda habiskan seluruh energi dan pikiran di tempat kerja sehingga waktu tiba di rumah Anda hanya memberikan "sisa-sisa" energi dan pulang hanya dengan duduk menonton TV.

Peluk anak-anak Anda, dengarkan cerita mereka, pelan-pelan ajarkan Agama kepada mereka, ajarkan mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ajarkan mereka akhlaq yang baik. 

Insya Allah Anda tidak akan merugi, karena kelak anak-anak Anda akan hidup sesuai jalan yang Anda ajarkan dan persiapkan.

Ukuran seorang Ayah yang sukses bukanlah pria paling kaya atau pria paling tinggi jabatannya di perusahaan atau lembaga pemerintah, juga bukan Ayah yang mampu membelikan Ferrari, Mercy, atau BMW bagi anak-anaknya, melainkan seorang Ayah yang anak laki-lakinya berkata : "Aku ingin menjadi seperti Ayah" atau anak perempuannya berkata : "Aku ingin seorang suami yang seperti Ayah".

1 Menit waktu Anda sangat berarti bagi mereka, dan seorang Ayah lebih berharga daripada 100 orang guru di sekolah.

14 abad lalu suri tauladan ummat manusia, Rasulullah SAW, memberikan contoh kepada kita bagaimana kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya. Di tengah-tengah kesibukan beliau menegakkan Islam, Rasulullah SAW selalu menyediakan waktu bagi putrinya Fatimah Az Zahra, bermain-main dengannya sembari mengajarinya tauhid dan akhlaq. Menurut Rasulullah SAW, pemberian utama seorang Ayah bukalan emas, perhiasan, atau harta benda lainnya, melainkan akhlaq yang baik.

Rasulullah SAW bersabda : "Tidak ada pemberian yang lebih utama seorang Ayah kepada anaknya selain budi pekerti yang baik". (HR. At-Tirmizi)

Mari kita Bulatkan tekad untuk selalu meningkatkan Iman

Payung tidak mungkin mampu menghentikan hujan, tapi dengan payung yang rapat dan kuat kita akan mampu berdiri tanpa terkena hujan.

Begitu juga dengan IMAN, ia mungkin tidak memberi kita kemenangan, tapi ia mampu memberi kita kekuatan untk bertahan menghadapi cobaan.

Saudaraku ...

UJIAN berupa kebaikan atau juga keburukan adalah sebuah kepastian. 

"... dan sungguh, Kami akan menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan .." (QS.21:35)

"..Dan ia (ujian) memang sengaja diberikan sebagai seleksi Tuhan akan benar tidak benarnya Iman ..." "...maka Allah (melalui ujian) pasti mengetahui oarang-orang yang dusta." (QS.29:2-3)

Sementara Iman tidak berada dalam kondisi yang konstan, kadang maju kedepan dan kadang justru mundur ke belakang, padahal yang akan menang hanyalah mereka yang mampu bertahan dalam Iman secara konstan.

Perhatikan Saudaraku, Rasulullah SAW menjelaskan kondisi mereka yang kuat dalam Iman :

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah baik baiknya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya" (HR Muslim)

Sungguh Saudaraku , tinggal ada satu pilihan bila kita ingin menang yaitu hanya dengan selalu meningkatkan Iman.

Rasulullah SAW memberikan saran : "Iman itu kadang bertambah (kuat) dan kadang berkurang, ia akan bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan"

Saudaraku hanya ada satu cara di hadapan kita ... 

Bulatkan tekad untuk selalu senantiasa taat ... 

Dan jangan sekali-sekali pernah untuk berpikir maksiat.

Selamat berkativitas Semoga Allah senantiasa berkenan untuk memberikan RAHMAT.

One Day One Juz Al Quran

Sesungguhnya kesibukan dunia itu tiada habisnya ...

Seringkali selesainya satu urusan malah memulai urusan lainnya ...

Tetapi di tengah hiruk pikuk dunia ini, janganlah kita lupa tujuan akhir perjalanan kita.

Sepenting-pentingnya urusan dunia, seurgen-urgennya masalah dunia, tidak akan bisa menunda datangnya sang maut!!

Apakah bekal kita sudah cukup? Apakah "tabungan" kita sudah memadai?

Mari kita berbekal dengan sebaik-baik bekal, mari kita siapkan tabungan akhirat.

Jikalau kita tidur 8 jam, maka dalam sehari  mata ini akan melek 16 jam.

Marilah diantara melek 16 jam kita tabung 1 jam saja untuk membaca Al Quran. Kita investasikan untuk bekal akhirat nanti.

Apabila kesibukan kita tidak memungkinkan kita membaca Al Quran 1 jam dalam sekali duduk, kita bisa cicil dalam dua, tiga, empat, atau lima kali kesempatan.

Bahkan boleh dibagi dalam sepuluh kali maupun dua puluh kali kesempatan.

Seringkali "kesibukan" itu hanya di benak kita, hanya exist dalam pikiran kita, hanya muncul dalam anggapan kita.

Banyak orang "sibuk" tidak sempat baca Al Quran, tapi masih sempat menonton TV, masih sempat baca facebook, masih sempat buka twitter,masih sempat browsing internet dan masih sempat melakukan banyak hal-hal mubah.

Mari kita perbaiki prioritas kita, kita pentingkan yang paling penting di akhirat nanti.

Kita lanjutkan azzam kita, kita teruskan kembali kebiasaan baik kita. Kita rutinkan kembali One Day One Juz.