At Tauhid edisi VII/26
Oleh: Hanif Nur Fauzi
“Seandainya
kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh
kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar
gembira yang dinanti-natikan bagi setiap insan… Akan tetapi kenyataannya
berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada
kehidupan…”
Kematian Adalah Kepastian
Betapa
banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin
mengkhabarkan bahwa tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman
kita telah meninggal dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan
tetapi betapa sedikit dari diri kita yang mampu mengambil pelajaran dari
kenyataan tersebut. Saudaraku, kita tidak memungkiri bahwa datangnya
kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Realita
telah membuktikannya. Allah Ta’ala telah berfirman.
“Setiap
jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah
balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan
oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam
surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran
: 185)
Allah Ta’ala juga telah berfirman,
“Katakanlah
(wahai Muhammad) sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti
akan mendatangi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat
Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang nampak, kemudian
Allah Ta’ala akan memberitahukan kepada kalian setiap amalan yang dahulu
kalian pernah kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8)
Saudaraku,
kematian itu milik setiap manusia. Semuanya akan menjumpai kematian
pada saatnya. Entah di belahan bumi mana kah manusia itu berada, entah
bagaimanapun keadaanya, laki-laki atau perempuan kah, kaya atau miskin
kah, tua atau muda kah, semuanya akan mati jika sudah tiba saatnya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan
bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah
tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun
mempercepat, meskipun hanya sesaat” (QS. Al A’raf :34)
Saudaraku,
silakan berlindung di tempat manapun, tempat yang sekiranya adalah
tempat paling aman menjadi persembunyian. Mungkin kita bisa lari dari
kejaran musuh, selamat dari kejaran binatang buas, lolos dari kepungan
bencana alam. Namun, kematian itu tetap akan menjemput diri kita, jika
Allah Ta’ala sudah menetapkan. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan
dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian,
meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. An
Nisa : 78)
Kematian Adalah Rahasia Sang Pencipta
Kematian manusia sudah Allah Ta’ala tetapkan atas setiap hamba-Nya sejak awal penciptaan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
proses penciptaan manusia di dalam perut ibu, berlangsung selama 40
hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah yang
menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40
hari juga. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh
pada janin tersebut, dan diperintahkan untuk mencatat empat ketetapan : rezekinya, kematiannya, amalannya, dan akhir kehidupannya, menjadi orang bahagia ataukah orang yang celaka….” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta’ala telah berfirman,
“Sesungguhnya
di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang (kapankah) datangnya hari
kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan air hujan, dan Dia lah yang
mengetahui tentang apa yang ada di dalam rahim, dan tidak ada seorang
pun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan esok hari, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati..” (QS. Luqman : 34)
Saudaraku,
jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapan kah
kita akan meninggal, dan dengan cara apakah kita akan mengakhiri
kehidupan dunia ini, masih kah kita merasa aman dari intaian kematian…?
Siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa menghirup segarnya udara pagi
esok hari…? Siapa yang bisa menjamin kita bisa tertawa esok hari…?
Atau…. siapa tahu sebentar lagi giliran kematian Anda wahai Saudaraku…
Di manakah
saudara-saudara kita yang telah meninggal saat ini…? Yang beberapa
waktu silam masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita… Saat ini
mereka sendiri di tengah gelapnya himpitan kuburan… Berbahagialah mereka
yang meninggal dengan membawa amalan sholeh… dan sungguh celaka mereka
yang meninggal dengan membawa dosa dan kemaksiatan…
Faidah Mengingat Kematian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah
kalian mengingat pemutus kelezatan dunia”. Kemudian para shahabat
bertanya. “Wahai Rasulullah apakah itu pemutus kelezatan dunia?”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, hadits dari shahabat Abu Hurairah)
Ad Daqaaq rahimahullahu mengatakan,
“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dianugerahi oleh
Allah tiga keutamaan, [1] bersegera dalam bertaubat, [2] giat dan
semangat dalam beribadah kepada Allah, [3] rasa qana’ah dalam hati (menerima setiap pemberian Allah)” (Al Qiyamah Ash Shugra, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar)
Bersegera dalam Bertaubat
Sudah
dapat dipastikan bahwa manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan
kemaksiatan. Seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya
sadar bahwa kematian senantiasa mengintai. Dia tidak ingin menghadap
Allah Ta’ala dengan membawa setumpuk dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin bertaubat atas dosa dan kesalahannya, kembali kepada Allah Ta’ala. Allah telah berfirman,
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS. An Nisa : 17)
Maksud
dari berbuat keburukan karena kebodohan dalam ayat di atas, bukanlah
kebodohan seorang yang tidak mengetahui sama sekali bahwa apa yang dia
kerjakan merupakan sebuah keburukan. Orang yang berbuat buruk dan tidak
mengetahui sama sekali tidak akan dihukum oleh Allah. Akan tetapi yang
dimaksud kebodohan di sini adalah seseorang yang mengetahui bahwa apa
yang dia lakukan adalah keburukan, namun dia tetap saja melakukannya
lantaran dirinya dikuasai oleh hawa nafsu. Inilah makna kebodohan dalam
ayat di atas. (Syarah Qowaidul Arba’ Syaikh Sholeh Fauzan).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan
bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang
luasnya seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan (oleh Allah)
bagi orang-orang ynag bertaqwa” (QS. Ali Imran : 133)
Giat dan Semangat dalam Beribadah kepada Allah
Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma, “Jadilah engkau di dunia ini bagaikan seorang yang asing atau
seorang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh”, mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lantas Abdullah ibnu Umar berkata, “Jika
engkau berada di sore hari jangan engkau tunggu datangnya pagi hari,
jika engkau berada di pagi hari jangan engkau tunggu datangnya sore
hari, pergunakanlah waktu sehatmu (dalam ketaatan kepada Allah) sebelum
datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum
kematian datang menjemputmu.” (HR. Bukhari)
Rasa Qana’ah di Dalam Hati
Allah Ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ah yang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah Ta’ala, bagaimanapun dan berapa pun pemberian Allah. Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,
“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku
agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, dan beliau
memerintahkan aku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam
masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang
berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan
bahwa hadits ini shahih)
Seseorang
yang banyak mengingat kematian, meyakini bahwa segala pemberian Allah
dari perbendaharaan dunia adalah titipan dari Allah. Seluruhnya akan
diambil kembali oleh Allah, dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh
Allah Ta’ala atas seluruh pemberian tersebut. Nas’alullaha al afiyah.
Kehidupan setelah Kematian
“Saudaraku,
seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari
seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan
suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap manusia… Akan
tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung
jawaban dan ada kehidupan… kehidupan yang sebenarnya…”
Diantara
keimanan kepada hari kiamat adalah meyakini bahwa setelah kematian ini
ada kehidupan. Semuanya akan berlanjut ke alam kubur kemudian ke alam
akhirat. Di sana ada pengadilan Allah Ta’ala yang Maha Adil. Semua manusia akan diadili, mempertanggungjawabkan setiap amalan yang dia perbuat. Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa
yang berbuat kebaikan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan
melihat hasilnya, dan barang siapa yang berbuat keburukan meskipun
sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat akibatnya” (QS. Al Zalzalah: 7-8)
Terakhir
Saudaraku, jadilah orang yang cerdas. Orang yang cerdas dalam memandang
hakikat kehidupan di dunia ini. Abdullah Ibnu Umar dia pernah berkata, ‘Aku bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian
mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah,
manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang
paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik
persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdas.’” (HR. Ibnu Majah)
Semoga bermanfaat. Allahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq
[Hanif Nur Fauzi]
In Memoriam Teddy Eka Vibiarta ...... Semoga di muliakan di sisi-Nya. Amin ....