RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI

Rabu, 28 Maret 2018
Jangan pernah menghina orang lain, sebab hidup kita ibarat roda yang selalu berputar, bisa saja orang yang kita hina suatu hari hidupnya lebih terhormat daripada kita.

Mengejek orang yang buruk muka, takkan men jadikan kita semakin menarik.
Mengejek orang yang sedang gagal, takkan men jadikan kita sukses.
Mengejek orang yang miskin, takkan menjadikan kita lebih kaya.
Mengejek orang yang bodoh, takkan menjadikan kita lebih pinter.
Maka biarkanlah keadaan orang lain dan berusa halah memperbaiki (instrospeksi) diri kita sendiri daripada mengomentari keadaan orang lain.

Karena hidup adalah WAKTU yang dipinjamkan dan HARTA adalah anugerah yang dipercayakan.
Bersyukurlah atas tubuh, nafas, kesehatan, keluar ga yang kita miliki.
Mari kita sadari bahwa kita selalu diberi yang terbaik ! di dunia dan akhirat.

Ketika kita merasa depresi, kita sedang hidup di masa lalu.
Ketika kita merasa cemas, kita sedang hidup di masa depan.
Tapi bila kita merasakan bahagia, berarti kita sedang hidup di masa kini

Kadangkala di saat marah, kita telah melukai perasaan orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa ada hati yang terluka sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yg dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri kita sendiri.

Tidak ada musuh yang tidak dapat ditaklukan oleh CINTA KASIH.
Tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh KASIH SAYANG.
Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaaf kan oleh KETULUSAN.
Tidak ada kesulitan yang tidak dapat dipecahkan oleh KETEKUNAN.

Semoga bermanfaat !
Tetap semangat... 😊

12 TIPE HATI YANG SAKIT menurut Al-Quran

1. HATI yang BERPENYAKIT
Yaitu hati yang tertimpa penyakit seperti keraguan, kemunafikan dan suka memuaskan syahwat dgn cara yang haram.

فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.”
(QS.al-Ahzab:32)

2. HATI yang BUTA
Yaitu hati yang tidak dapat melihat dan menemukan kebenaran.

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yg buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
(QS.al-Hajj:46)

3. HATI yang ALPHA
Yaitu hati yang lalai dari Al-Qur’an. Karena terlalu disibukkan dengan hal-hal duniawi dan syahwat yang menyesatkan.

لَاهِيَةً قُلُوبُهُم

“Hati mereka dalam keadaan lalai.”
(QS.al-Anbiya’:3)

4. HATI yang BERDOSA
Yaitu hati yang menutupi kesaksian atas  sebuah kebenaran.

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ  وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُه

“Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikan nya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.”
(QS.al-Baqarah:283)

5. HATI yang SOMBONG
Yaitu hati yang congkak dan enggan mengakui Ke-Esaan Allah. Ia semena-mena melakukan kedzali man dan permusuhan.

كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.”
(QS. Al-Mu'min/Ghafir:35)

6. HATI yang KASAR
Yaitu hati yang tidak memiliki kasih sayang dan belas kasihan.

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِك

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”
(QS.Ali Imran:159)

7. HATI yang TERKUNCI
Yaitu hati yang tidak mau mendengarkan hidayah dan enggan merenungkannya.

وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِه

“Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya.”
(QS.al-Jatsiyah:23)

8. HATI yang KERAS
Yaitu hati yg tidak dapat diluluhkan oleh keimanan.
Tidak dapat terpengaruh oleh nasehat dan peringatan. Dan ia berpaling dari mengingat Allah.

وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

“Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.”
(QS.al-Ma’idah:13)

9. HATI yang LALAI
Yaitu hati yang menolak untuk mengingat Allah dan mendahulukan hawa nafsu dibanding ketaatan ke pada-Nya.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”
(QS.al-Kahfi:38)

10. HATI yang TERTUTUP
Yaitu hati yang tertutup rapat sehingga tidak dapat ditembus oleh ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Nabi.

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ

Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”.
(QS.al-Baqarah:88)

11. HATI yang JAUH (dari KEBENARAN)
Yaitu hati yang melenceng jauh dari cahaya kebenaran.

فأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.”
(QS.Ali Imran:7)

12. HATI yang RAGU
Yaitu hati yang selalu diombang-ambingkan oleh keraguan.

انَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فpِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُون

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan nya.
(QS.at-Taubah:45)

Inilah 12 tipe hati yang sakit menurut Al-Qur’an.
Semoga hati kita terhindar dari 12 tipe ini. Karena
itu perbanyaklah berdoa & istighfar.

يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبُ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Duhai yang membolak-balikkan hati..
Tetapkan hati kami diatas agama-Mu...

Semoga bermanfaat. Aamiin. Salam.

Kalau Kamu .....

Kalau Kamu...

Puisi oleh : Ust Cahyadi Takariawan

Kalau kamu lelah, cobalah tilawah.
Kalau kamu resah, segeralah tilawah.
Kalau kamu gelisah, hilangkan dengan tilawah.
Kalau kamu susah, mulailah tilawah.
Kalau kamu gundah, jangan lupa tilawah.
Kalau badanmu lemah, kuatkan dengan tilawah.

Kalau imanmu tergugah, lakukan tilawah.
Kalau jiwamu gerah, perbanyak tilawah.
Kalau matamu basah, segera tilawah.
Kalau pikiran cerah, cepatlah tilawah.

Kalau hatimu patah, teruslah tilawah.
Kalau kamu marah, redaksi dengan tilawah.
Kalau kamu merasa gagal, jangan lupakan tilawah.
Kalau kamu kalah, harus banyak tilawah.
Kalau kamu tidak mau kalah, harus makin banyak tilawah.

Kalau kamu tabah, seringlah tilawah.
Kalau tanganmu tengadah, mulailah tilawah.
Kalau kakimu melangkah, lantunkan tilawah.
Kalau hatimu berseri bak bunga merekah, seringkali tilawah.
Kalau perasaanmu begitu indah, segeralah tilawah.

Kalau ingin keluarga sakinah, ajak mereka tilawah.
Kalau ingin anak-anak salih dan salihah, ajari
tilawah.
Kalau ingin rejeki melimpah, rajinlah tilawah.
Kalau ingin hidup penuh berkah, rutinkan tilawah.
Kalau ingin mengunjungi Ka'bah, lantunkan
tilawah.

Kalau anganmu tengah membuncah, perbanyak tilawah.
Kalau kamu malas tilawah, paksalah untuk tilawah.
Kalau kamu rajin tilawah, lanjutkan terus tilawah.
Kalau kamu tilawah, itulah jalan menuju jannah..

Mulai hari dengan tilawah

Kenapa Minggu Jadi Hari Libur Kita, Bukannya Jum'at?

Selasa, 27 Maret 2018
MuslimDaily.net - Di Indonesia, mayoritas penduduknya menikmati libur pekanan pada hari Ahad alias Minggu. Kantor dan mayoritas sekolah juga meliburkan kegiatannya pada hari Ahad, kecuali beberapa sekolah Islam atau pondok pesantren yang menghentikan aktifitasnya justru pada hari Jum'at dan tetap berkegiatan belajar mengajar pada hari Ahad.

Lalu darimana awal mula libur pekanan pada hari Ahad ini?

Seperti kita ketahui, di negara-negara Timur Tengah (Arab), libur pekanan dijalani pada hari Jum'at. Meski negara-negara Timur Tengah dihuni mayoritas penduduk beragama Islam, namun Islam sebenarnya tidak mengkhususkan hari tertentu sebagai hari libur kerja.

Dalam Islam hari Jum'at adalah hari yang mulia, karena ada perintah-perintah khusus dari Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam untuk mengamalkan amalan dan ibadah tertentu seperti membaca surat Al Kahfi, sholat Jum'at berjamaah serta ibadah lainnya.

Lalu bagaimana dengan hari Ahad yang merupakan hari libur di Indonesia dan mayoritas negara di dunia?

Begini sejarahnya, tradisi libur di hari Ahad berasal dari tradisi Romawi Kuno di Italia. Pada saat itu orang Romawi Kuno beribadah di hari Ahad. Oleh kerena itu, orang Romawi libur di hari Ahad. Selain itu, orang Romawi selalu menandai hari libur dan hari penting lainnya dengan warna merah.

Waktu itu orang Romawi menguasai banyak Negara di Eropa. Kekuasaan Romawi sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan lain- lain. Tradisi libur di hari Ahad kemudian diterapkan di Negara-negara jajahan Romawi. Termasuk Belanda.

Negara Belanda kemudian menjajah Indonesia selama 350 tahun. Orang-orang Belanda di Indonesia menerapkan tradisi libur di hari Ahad.

Sampai sekarang, tradisi libur di hari Ahad masih dipakai di Indonesia. Alasannya, selama 6 hari orang sudah bekerja keras dan perlu libur. Pemerintah Indonesia menetapkan hari Ahad sebagai libur Nasional. Kalender Indonesia juga mewarnai hari libur lainnya dengan warna merah. Tradisi libur di hari Ahad tetap dipakai di banyak negara sampai sekarang. Termasuk juga menandai tanggal- tanggal penting dengan warna merah.

Begitu Toleransinya Umat Islam di Indonesia

Bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, secara tidak langsung sudah sangat bertoleransi dalam hal keagamaan. Contohnya tentang libur nasional pada hari Ahad. Mengenai ini, mantan wakil presiden RI Jusuf Kalla telah menerangkannya secara gamblang di hadapan 700 Pendeta dalam acara Konferensi Gereja beberapa waktu lalu.

Ketika itu Jusuf Kalla (JK) ditanya peserta konfrensi, “mengapa kantor-kantor mesti ada masjid?”. Dengan tegas JK menjawabnya, “Justru ini dalam rangka menghormati Anda. Jum’at kan tidak libur, Anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, (sedangkan) ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau Anda tidak suka ada masjid di kantor, apa Anda mau hari liburnya ditukar, Jum’at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen”, …

Ya, umat Islam Indonesia begitu tolerannya .

Khalifah Umar Memanggul Karung Demi Rakyat yang Kelaparan

Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusur ke arah Harrah, sebuah tempat di pinggiran kota Madinah. Kala itu dia ditemani oleh budaknya, Aslam. Dalam perjalanan itu mereka melihat ada sebuah perapian kecil yang jaraknya lumayan jauh dari tempat Umar berdiri. Umar menduga, perapian tersebut dibuat oleh kafilah yang belum sempat masuk kota dan memutuskan bermalam di tenda padang pasir karena malam telah tiba. Umar dan Aslam pun lantas mendekati tenda itu.

Sepertinya Umar salah menduga. Ketika sampai di sana, hanya didapati seorang ibu dan beberapa anaknya  yang sedang menangis. Sang ibu tampak memasak air di atas api. Melihat itu, Umar mengucap salam dan meminta izin mendekatinya.

"Mengapa anak-anak ini menangis?" tanya Umar.

"Karena mereka lapar," jawab ibu itu.

"Apa yang ada dalam panci?" tanya Umar lagi.

"Hanya air untuk menenangkan anak-anak, agar mereka cepat  pergi tidur dengan merasa yakin bahwa makanan sedang dipersiapkan untuk mereka . Ah!  Allah akan menghakimi antara Umar dan aku pada hari kiamat, karena mengabaikanku dalam kesusahan, " jawab ibu itu dengan nada kesal.

Seketika Umar menangis. Lalu, dia melanjutkan pertanyaannya,

“Semoga Allah merahmati Anda. Bagaimana Umar bisa mengetahui penderitaan Anda?"

"Ketika dia Amir kami, dia harus menjaga dirinya (untuk mengetahui) informasi tentang kami," tukas sang ibu.

Mendengar jawaban itu, Umar langsung mengambil keputusan. Dia dan Aslam kembali ke kota dan langsung menuju ke baitul maal. Dia mengambil karung yang diisi dengan tepung, kurma, lemak, pakaian, dan sejumlah uang. Ketika semua karung sudah siap, dia meminta Aslam untuk menaikkan bawaan itu ke punggungnya dan berencana segera kembali ke tenda keluarga ibu yang kelaparan tadi.

“Jangan Amirul Mukminin. Aku akan membawa karung ini,” cegah Aslam.

“Apa? Maukah kamu menanggung bebanku pada hari kiamat? Saya harus membawa karung ini, karena aku yang akan ditanya (di akhirat) tentang wanita ini,” tegas Umar.

Aslam pun mengurungkan niatnya membantu Umar. Dia hanya membuntuti Umar yang berjalan dengan cepat dengan memanggul karung. Setelah sampai tenda, Umar menaruh sedikit tepung, beberapa kurma, dan lemak pada panci lalu dimasaknya di atas api. Dia juga meniup dengan mulutnya agar api makin menyala. Sampai-sampai, asap api itu mengenai jenggot Umar.

Tidak seberapa lama matanglah makanan buatan Umar. Keluarga itu pun makan bersama. Anak-anak mulai menghentikan tangisannya dan berubah riang. Umar membuat makanan itu sedikit lebih banyak, agar keluarga tersebut bisa menikmatinya untuk waktu makan berikutnya. Begitu juga ibu dari anak-anak itu sangat menyukuri nikmat yang diterimanya.

"Semoga Allah memberimu pahala atas kebaikanmu. Bahkan Anda layak untuk menggantikan Khalifah, bukannya Umar,” ucap wanita tersebut tanpa mengetahui Khalifah Umar-lah yang diajaknya bicara sejak dari awal bertemu.

"Ketika Anda datang untuk melihat Khalifah, Anda akan menemukan saya di sana," jawab Umar.
Lalu, Umar duduk sebentar dan memandang ke arah anak-anak.  Sesudah itu Umar kembali ke Madinah.

"Apakah kamu tahu mengapa aku duduk di sana, Aslam? Aku telah melihat mereka menangis dalam kesusahan. Aku suka melihat mereka tertawa dan bahagia untuk beberapa waktu," ucap Umar pada Aslam di tengah perjalanan pulang.

Sumber:
Buku "Cerita para Sahabat" oleh Syaikh Muhammad Zakariyya Kandhalvi


"Whiner or Winner"

Dr. Mardani Ali Sera

Mungkin ada di antara kita yang tidak mengenal Jean-Dominique Bauby. Ia pemimpin redaksi majalah Perancis 'Elle'. Tahun 1996 ia meninggal pada usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoar yang "ditulisnya" secara istimewa dan diberinya judul Le Scaphandre et le Papillon (The Bubble and the Butterfly), yang mengisahkan tentang sang pemimpin redaksi itu.

Pada 1995 Jean terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut 'locked-in syndrome', kelumpuhan total yang ia sebut 'seperti pikiran di dalam botol'. Memang Jean masih bisa berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kiri. Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah sakit, keluarga dan teman-temannya.

Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. 'Bukan main', kata setiap orang yang membaca kisahnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh menulis dengan cara si Jean, barangkali kita harus menangis dulu berhari-hari.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup si Jean untuk tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan.

Nah, berapa pun problem dan stress hidup kita, tiada artinya jika dibandingkan dengan problem si Jean.

Dalam memoarnya ia menulis: 'Aku akan jadi orang paling bahagia di dunia ini, jika aku bisa menelan ludahku saja'. Bisa dibayangkan, menelan ludah pun ia tak mampu, sementara banyak orang yang masih bisa makan bakmi dsb, mengeluh setiap hari, sepanjang tahun.

Apa lagi yang dikerjakan Jean dalam kelumpuhan totalnya selain menulis buku ? Ia mendirikan asosiasi penderita 'locked-in syndrome' untuk membantu keluarga penderita. Ia juga menjadi 'bintang film' sebagai pemeran utama dalam film yang dibuat TV Perancis yang menceritakan kisah Jean. Ia merencanakan untuk menulis, menulis dan menulis buku selanjutnya. Pokoknya ia hidup 'to celebrate life, to do something good for others'. (rayakan hidup ini, dengan melakukan kebaikan bagi orang lain)

Adakah arti kisah nyata si Jean buat kita ? Betapa pun dahsyat masalah  kita saat ini, stress berat, konflik batin dengan diri sendiri maupun orang lain, tak bahagia dengan pasangan, kebutuhan hidup tak terpenuhi, baru saja di-PHK dst, saya yakin kita masih bisa menelan ludah bukan ?

Mari, kita jangan terus menjadi whiner (pengeluh abadi), melainkan jadi winner (pemenang) atas kehidupan ini.

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal

Ketika aku tersenyum bukan berarti hidupku sempurna.
Aku hanya mensyukuri apa yg aku punya dan apa yg telah Tuhan berikan untukku.

Selalu Bersyukur
Setiap hari

Dicari teman yang mau menshalatkan kita saat kita meninggal

Duka cita di zaman now...

Karangan Bunga Tidak Menambah Apa-apa...

Ada seseorang yang kami kenal, sebagai seorang yg diberikan kedudukan yang tinggi di dunia ini dihadapan manusia. Beberapa waktu yg lalu, beliau rahimahullah wafat.

Masya Allah, selang satu jam tersiar berita duka, semua masyarakat bergerak. Tamu berdatangan ke rumah megahnya. Tidak sampai tiga jam, jalan raya di sekitar rumah duka, penuh dengan karangan bunga yang tersurat dari rupa-rupa orang besar di negeri ini.

Jalanan ditutup untuk umum, dijaga oleh polisi militer. Patroli pengawal disiapkan, panitia pengurusan jenazah didatangkan khusus. Keluarga tidak mau pengurusan oleh jamaah masjid. Tak masalah.

Hingga selesailah jenazah dikafani, dan siap dishalatkan. Diluar rumah, orang ratusan sudah berjejalan, hadir! Maka diputuskan jenazah dishalatkan di masjid. Segera kami siapkan.

Masjid siap, jenazah sudah dihadapan imam, tapi....

yang berbaris dibelakang imam baru sepuluh orang! Subhanallah, kami susul para pelayat di luar masjid,

"pak, bu, ayo ambil wudhu! Shalat jenazah mau dimulai! Ayo pak!!", kami menyeru.

Namun tamu-tamu elite dan sosialita ini berujar diluar dugaan, "ini susah buka sepatunya, dek!" atau "kami doakan saja, dek, dari sini", timpal ibu yang lain sambil bercermin ke kaca mobil.

Subhanallah, kami seru tetangga-tetangga kampung kami yang sama-sama hadir menyaksikan prosesi megah ini, "pak, bu, hayu! Cepet wudhu! Ayo pak, diminta keikhlasannya!!"

Bapak ibu tetangga kami ini hanya menggeleng, sambil tersenyum, "moal cep, ah... Isin! Seueur jalmi ageung!" (nggak dek, ah.. Malu! Banyak orang besar!). Kami terhenyak menyerah.

Akhirnya kami kembali ke dalam masjid, yang saat itu terhimpun sekitar 20 orang yang kemudian kami bagi menjadi tiga shaf. Jenazah pun dishalatkan.

Semoga Allah mengampuni almarhum, menyayangi beliau, dan memasukan beliau ke dalam syurgaNya yg penuh kenikmatan.

Ibrah bagi yg hidup:

Berkawanlah dengan mereka yang pada waktunya, ikhlas menyalatkan jenazah kita, bahkan walau pun harus menempuh jarak. Mereka yang ikhlas mau mendoakan ampunan Allah bagi kita ketika jasad ini sudah kaku. Berdekatanlah dengan mereka yang benar-benar menyayangi kita dunia-akhirat.

Karena karangan bunga tidak menambah apa-apa.

#carilah teman taat dunia akhirat
#supaya kelak kita tidak hanya menerima kiriman karangan bunga,,,

Sampaikan Walau Satu Ayat

Begitu banyak contoh buruk berseliweran. Artis-artis dengan bangga bermaksiat. Menebar virus-virus pornoaksi dan pornografi. Mungkin karena apes atau sekadar mencari sensasi.  Di saat yang sama ada yang bangga dengan gaya hidup hedonismenya. Tertangkap membawa narkotika atau malah bergaul bebas. Negeri ini semakin lama semakin ngeri. Banyak penghuninya sudah tidak tahu diri. Berasyik masyuk dengan kemaksiatan atas nama eksistensi diri.

Semakin banyak orang yang mudah putus asa. Ditayangkan di media massa. Bunuh diri, membuang anak sendiri atau bahkan menyiksa buah hati atas nama depresi. Berita yang diulang-ulang, sehingga menjadi semacam motivasi. Sementara pasar sama sekali tidak tertarik dengan renungan keislaman, mengarahkan kepada kebijaksanaan hidup dan indahnya norma Islam. Pasar lebih suka teladan yang tidak bermoral atau bermoral rendah. Karena itulah dunia hiburan yang sarat dengan hal-hal berupa kesenangan.

Terwujudlah kini masyarakat yang minim moralitas. Sesak dengan tugas dan pekerjaan yang menyita hati. Shalat tidak ada lagi, doa jarang sekali. Dunia dan segala keangkuhannya telah menyibukkan diri. Maka jarang sekali orang bicara tentang bagaimana iman saya hari ini. Jarang sekali orang meminta, tolong nasihati saya, saya sedang lemah iman. Tak ada, bahkan sama sekali tidak pernah ada.

Gelombang materialisme membuat manusia abad ini mulai tidak lagi peduli dengan agama. Kebutuhan hidup yang mencekik leher, biaya kesehatan yang mahal dan gaya hidup yang semakin permisif dan hedonis, membuat kerinduan pada Islam memudar. Kalaulah hari ini ada, pasti jumlahnya sama sekali tidak berimbang dengan jumlah masyarakat sebenarnya.

Generasi tuanya tidak mau membina, sementara remajanya lelap dalam tidur panjangnya. Tidak tergugah untuk mencintai Islam dan memperjuangkannya. Tetapi justru memilih diam dalam ketidakberdayaan, acuh dan cuek dengan kondisi sekitar. "Yang penting saya senang, urusan yang lain itu tidak penting..."

Fakta ini membuat kita mengelus dada. Karena jelas ini adalah bagian dari tanda tanda merosotnya moralitas kita. Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudz bahkan menilai ada suatu hal yang jalan di tempat, bahkan mundur, yakni akhlak dan jati diri bangsa. Menurutnya salah satu bukti bahwa akhlak mengalami kemunduran adalah masih adanya perilaku korupsi dan suap, juga beredarnya tayangan video porno dan maraknya maksiat di tengah masyarakat.

Berkontribusilah...

Saatnya setiap muslim menjadi da'i yang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Berdakwah dengan kapasitan yang kita miliki. Ajaklah teman dan saudara untuk berbincang masalah hati dan iman. Sudah sebaik apa mereka memperhatikan imannya. Sudah sejauh apa perbaikan yang selama ini mereka lakukan. Ajak dan teruslah mengajak. Karena dengan begitu mereka akan mulai sadar dan memperhatikan kondisi iman mereka.
Anda yang bekerja di kantor, ajaklah teman kantor anda untuk selalu shalat pada waktunya. Anda yang menjadi guru, ajaklah murid-murid anda untuk selalu menjaga shalatnya. Sedangkan anda yang berprofesi sebagai pengusahan, ajaklah pelanggan anda untuk selalu memperhatikan shalatnya. Karena shalat tiang agama. Dengungkan syariat di mana pun kita berada. Karena seribu dimulai dari satu. Kalau satu saja tidak dilakukan, maka bagaimana kita bisa menghasilkan seribu? 
[muslimdaily.net]