Begitu banyak contoh buruk berseliweran. Artis-artis dengan bangga
bermaksiat. Menebar virus-virus pornoaksi dan pornografi. Mungkin karena
apes atau sekadar mencari sensasi. Di saat yang sama ada yang bangga
dengan gaya hidup hedonismenya. Tertangkap membawa narkotika atau malah
bergaul bebas. Negeri ini semakin lama semakin ngeri. Banyak penghuninya
sudah tidak tahu diri. Berasyik masyuk dengan kemaksiatan atas nama
eksistensi diri.
Semakin banyak orang yang mudah putus asa.
Ditayangkan di media massa. Bunuh diri, membuang anak sendiri atau
bahkan menyiksa buah hati atas nama depresi. Berita yang diulang-ulang,
sehingga menjadi semacam motivasi. Sementara pasar sama sekali tidak
tertarik dengan renungan keislaman, mengarahkan kepada kebijaksanaan
hidup dan indahnya norma Islam. Pasar lebih suka teladan yang tidak
bermoral atau bermoral rendah. Karena itulah dunia hiburan yang sarat
dengan hal-hal berupa kesenangan.
Terwujudlah kini masyarakat yang
minim moralitas. Sesak dengan tugas dan pekerjaan yang menyita hati.
Shalat tidak ada lagi, doa jarang sekali. Dunia dan segala keangkuhannya
telah menyibukkan diri. Maka jarang sekali orang bicara tentang
bagaimana iman saya hari ini. Jarang sekali orang meminta, tolong
nasihati saya, saya sedang lemah iman. Tak ada, bahkan sama sekali tidak
pernah ada.
Gelombang materialisme membuat manusia abad ini mulai
tidak lagi peduli dengan agama. Kebutuhan hidup yang mencekik leher,
biaya kesehatan yang mahal dan gaya hidup yang semakin permisif dan
hedonis, membuat kerinduan pada Islam memudar. Kalaulah hari ini ada,
pasti jumlahnya sama sekali tidak berimbang dengan jumlah masyarakat
sebenarnya.
Generasi tuanya tidak mau membina, sementara remajanya
lelap dalam tidur panjangnya. Tidak tergugah untuk mencintai Islam dan
memperjuangkannya. Tetapi justru memilih diam dalam ketidakberdayaan,
acuh dan cuek dengan kondisi sekitar. "Yang penting saya senang, urusan
yang lain itu tidak penting..."
Fakta ini membuat kita mengelus
dada. Karena jelas ini adalah bagian dari tanda tanda merosotnya
moralitas kita. Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudz bahkan menilai ada
suatu hal yang jalan di tempat, bahkan mundur, yakni akhlak dan jati
diri bangsa. Menurutnya salah satu bukti bahwa akhlak mengalami
kemunduran adalah masih adanya perilaku korupsi dan suap, juga
beredarnya tayangan video porno dan maraknya maksiat di tengah
masyarakat.
Berkontribusilah...
Saatnya
setiap muslim menjadi da'i yang menyeru kebaikan dan mencegah
kemungkaran. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Berdakwah dengan
kapasitan yang kita miliki. Ajaklah teman dan saudara untuk berbincang
masalah hati dan iman. Sudah sebaik apa mereka memperhatikan imannya.
Sudah sejauh apa perbaikan yang selama ini mereka lakukan. Ajak dan
teruslah mengajak. Karena dengan begitu mereka akan mulai sadar dan
memperhatikan kondisi iman mereka.
Anda yang bekerja di kantor,
ajaklah teman kantor anda untuk selalu shalat pada waktunya. Anda yang
menjadi guru, ajaklah murid-murid anda untuk selalu menjaga shalatnya.
Sedangkan anda yang berprofesi sebagai pengusahan, ajaklah pelanggan
anda untuk selalu memperhatikan shalatnya. Karena shalat tiang agama.
Dengungkan syariat di mana pun kita berada. Karena seribu dimulai dari
satu. Kalau satu saja tidak dilakukan, maka bagaimana kita bisa
menghasilkan seribu?
[muslimdaily.net]
0 komentar:
Posting Komentar