Jangan Mikir Dunia Mulu Bro!

Selasa, 29 April 2014
Oleh Burhan Sodiq
Di sebuah sudut kamar, tertegun seorang Adi yang duduk seorang diri. Ia melamun sejak tadi pulang sekolah. Pandangannya kosong, menatap sesuatu yang hampa. Sejak tadi ia memimpikan seandainya ia bisa memiliki motor keren seperti teman-temannya. Tentu saja ia tidak akan naik bus terus. "Kan keren kalo aku bisa naik motor. Pasti semua orang melihat aku..."

Di sudut bumi yang lain ada seorang Lastri yang melamun juga. Hanya saja ia tidak sedang berpikir tentang motor. Ia justru kesengsem sama hape yang barusan dibeli temennya. Hape itu tidak cuman bisa buat nelepon or kirim sms, tapi juga bisa buat nonton tv, dengerin radio, motret temen, bikin video, dan juga bisa buat ngaca kalo pas kepepet tidak ada cermin. (Mungkin juga bisa buat nyetrika kali ya hehehe) Lastri kepengen banget punya barang itu. Ia berpikir kapan ya bisa punya hape kayak gitu kan keren banget.
***

Apa yang dialami Adi dan Lastri mungkin saja pernah kamu alami. Ngerasa pengen banget sama barang-barang yang bakalan bikin kamu bahagia. Kepengen punya motor, mobil, hape, laptop, obeng, palu, hehehe apa lagi ya. Banyak banget pokonya. Padahal kadang-kadang kita tuh pengennya cuman biar keliatan gagah doang. Sudah punya motor yang bisa nganter ke sekolah tapi masih saja belum puas. Alasannya sederhana, katanya usia motor sama usia dia kalah jauh. Motornya tahun 80 an sementara dia kelahiran 90 an. Ya gapapa kan, malahan ntar kalo pas naik motor kudu sopan, karena lebih tuaan motornya. ^_^

Handphone juga begitu, kadang sudah punya hape yang cukup bagus. Sudah poliponik, bahkan malah poliklinik ^_^ tapi masih saja ngerasa kurang. Akhirnya kepengen yang aneh-aneh, padahal kadang kebutuhan kita hanya buat sms sama telepon saja. Itu pun lebih sering ga ada pulsanya daripada ada pulsanya. Ngaku saja deh hehehe. Paling sering hape cuman buat miskol dengan harapan biar ditelepon balik. Miskol lebih mirip seperti kode untuk pengena ditelepon balik sama temen kita. Hayo ngaku!

Nah, sekarang coba deh kita berubah. Anggaplah dunia yang serba heboh itu sebagai sebuah permainan. Jangan kamu jadikan dunia ini sebagai sebuah tujuan. Jadikan sebagai sampingan saja, biar kamu tidak mendadak stres dan menghuni rumah sakit jiwa. Kasihan kan?

Lagian Allah sudah berfirman kok, coba deh kamu lihat.

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al Hadid 20)

Ayat ini sudah ngasih banyak nasehat buat kamu untuk sedikit menahan diri dari dunia. Jangan jadi remaja yang penginan, dikit-dikit pengen, dikit-dikit pengen, pengen kok dikit-dikit. *_^

Jadilah remaja yang focus sama hidup kamu. Tahu tujuan hidup dan berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan Allah. Meski remaja bukan berarti kamu matinya lama kan? Ups mungkin ga sopan ya, tapi cobalah kamu tengok kanan dan kiri kamu. Banyak pula remaja yang sudah menemui ajal meski mereka masih berusia belia. Ini artinya kamu kudu banyak banyak istighfar sama Allah. Jangan malah Cuma mikirin dunia melulu. Perhatikan taubat kamu selama ini. Sudah bener atau belom? Atau malah selama ini kamu cueknya minta ampun sama Allah dan Rasulnya. Kamu kudu sadar bahwa kamu juga butuh untuk berubah. Jangan melulu menjadi anak nakal, harus ada masalah kamu bertaubat kepada Allah dan kembali kepadaNya.
Allah berfirman yang artinya:

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.(Al Hadid 21)

Ayo kita berubah temans. Jangan menunggu tua untuk menuju kepada Allah. Allah itu sayang banget ama kamu, dan Allah akan lebih sayang kalau kamu mau kembali kepada Allah. Bertaubat untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Jadilah remaja yang peduli dengan taubatnya, dan ingin mengisi hidup dengan kebaikan.

[muslimdaily.net]

Belajarlah Menghargai Hidayah

Senin, 28 April 2014
Masihkah kita ingat dengan sosok seorang Sumayyah. Ia dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, Ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “Hai keluarga Yasir, sabarlah! kalian dijanjikan pahala surga.”

Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak.

Sumayyah memilih tetap bertahan. Meski ia bisa saja memilih kalah dan kembali kepada kejahiliahan. Tapi dia adalah seorang muslimah yang paham pilihan yang benar. Ia pilih mati sebagai syuhada pertama di sejarah Islam. Dan tentu saja pahalanya lebih besar, janah dan ridha Allah atas dirinya.Kini, kita juga dihadapkan pada sebuah peristiwa mengagumkan. Seorang wanita di abad ini yang tetap bertahan dengan jilbab yang dia kenakan. Marwah Al Sharbini, seorang muslimah berusia 32 tahun, yang ditikam sampai mati oleh pria 28 tahun asal Jerman dengan keturunan Rusia dalam ruang sidang di timur kota Dresden pada Rabu, 1 Juli 2009. Dia ditikam 18 kali, sebelum wanita hamil tersebut memulai kesaksiannya melawan pria yang melecehkan dirinya karena memakai hijab. Tragis!

Dua peristiwa ini menghentakkan hati kita tentang betapa hidayah begitu berharga bagi mereka. Karena mereka melihat bahwa tiada ilah yang wajib ditaati selain Allah. Tidak ada tujuan yang hendak dicari, kecuali hanya ridha Allah. Mereka akan berbuat apa saja, selama itu bisa mendatangkan keridaan Allah. Bahkan kalau pun mereka harus mati untuk mendapatkan ridha Allah, mereka pasti akan melakukannya.

Dari situ kita belajar, bahwa berislam berarti menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada ketentuan Allah. Apa yang Allah mau, apa yang Allah inginkan, kita akan berusaha melakukannya. Tanpa pamrih, tanpa embel-embel dan tanpa tuntutan apa pun. Kita juga akan sangat menghindari perkataan yang membuat Allah murka, tindakan yang membuat Allah tidak ridha kepada kita. Kita akan sangat berhati-hati dalam berkata-kata, dalam bersikap dan dalam beramal. Karena bagi kita hidayah Allah itu mahal, dan lebih berarti daripada hanya seonggok dunia.

Inilah nilai yang harus kita tanamkan kepada muslimah dan anak-anak gadis kita. Bahwa memegang erat hidayah, sama pentingnya dengan mendapatkan hidayah itu sendiri. Carilah hidayah dengan upaya terkeras kita, dan bila sudah mendapatkannya, jangan dilepas begitu saja. Pertahankan, dengan jiwa yang ada di raga.


Waspada: Usangnya Peta Kasih Suami Istri

Minggu, 27 April 2014
oleh: Cahyadi Takariawan

Setiap keluarga muslim yang telah terbiasa mendapatkan pembinaan keislaman, visi besar pernikahan mereka pasti sudah jelas. Menjadikan rumah tangga sebagai surga di dunia untuk menggapai surga di akhirat sudah pasti disepakati oleh suami istri. Dengan kesamaan visi ini, kita tidak akan mengalami masalah besar dalam rumah tangga. Masalah yang sering timbul dalam rumah tangga muslim justru adalah masalah yang datang dari hal-hal kecil yang remeh temeh. Hal-hal kecil ini biasanya yang menumpuk menjadi hal besar dan membuat peta kasih suami istri menjadi usang.

Pada Awal Pernikahan

Sebagai contoh dalam soal masakan. Laki-laki dan perempuan menikah dan membawa modal kehidupan berdasarkan latar belakang keluarga masing masing. Bagi seorang anak, masakan yang enak adalah masakan ibunya karena referensi makanan yang paling sering mereka nikmati adalah masakan ibu. Sebutlah si Fulan, seorang lelaki yang terbiasa memakan masakan berMSG. Ibunya biasa membubuhkan MSG dalam sayuran, tumisan, sambal, bahkan nasi. Ibunya menganggap bahwa nasi akan terasa lebih enak apabila dibubuhi MSG. Lalu lelaki ini menikah dengan Fulanah yang ibunya tidak pernah menggunakan MSG. Sang ibu berkata bahwa hanya perempuan yang tidak percaya diri dengan kualitas masalakannya yang memasak menggunakan MSG. Dengan keyakinannya akhirnya pada hari pertama pernikahannya Fulanah memasak tanpa menggunakan MSG. Setelah dihidangkan, ternyata sang suami berkata bahwa masakan istrinya tidak enak karena tidak menggunakan MSG. Walhasil, pertengkaran pertama pun muncul hanya karena perbedaan selera masakan. Cara mengatasi masalah kecil inilah yang harus disiapkan oleh lelaki dan perempuan yang akan menikah. Budaya diskusi harusi dimulai sejak awal pernikahan.

Berdua Di Tengah Bahtera

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh suami istri adalah perbedaan mereka dalam memandang sesuatu. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga berada pada masa awal menyekolahkan anaknya. Seorang suami berkata, "hari pertama masuk TK anak kita nangis atau tidak?" Pertanyaan sederhana itu ternyata dijawab oleh sang istri dengan jawaban panjang, "Hari ini anak kita senang sekali. Ternyata dia sekelas dengan anaknya ketua RW kita yang rumahnya di depan itu lho! Ada juga anaknya ibu yang jualan di depan gang kita. Karena nggak ada yang jemput, tapi anaknya ibu itu pulang bareng kita." Pertanyaan singkat yang memerlukan jawaban "ya" atau "tidak" dijawab panjang lebar oleh seorang istri. Sang suami akhirnya berkata, "Jadi, tadi anak kita nangis atau tidak?" Inilah yang memungkinkan timbul masalah. Perbedaan sistem otak perempuan dan laki-laki harus dipahami oleh masing-masing.

Laki-laki memiliki sistem berpikir tunggal. Mereka umumnya fokus pada satu hal dan tidak bisa berpikir bercabang-cabang. Sebaliknya, perempuan memiliki sistem berpikir majemuk sehingga dapat memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Itulah mengapa ketika bercerita perempuan suka menjelaskan banyak hal sebelum masuk ke inti pembicaraan. Hal ini harus dapat dipahami oleh seorang suami. Begitupun pada pandangan, laki-laki memandang fokus sedangkan perempuan memandang lebih melebar. Contohnya ketika membuka kulkas, seorang perempuan ketika membuka pintu kulkas, ia sudah mengetahui di mana letak-letak makanan yang disimpannya.

Sistem berpikir majemuk inilah yang membuat perempuan pada pagi hari mampu menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu. Pada saat bersamaan mereka memasak, menyapu, menyiapkan seragam sekolah anaknya, dan menyuapi anaknya yang paling kecil. Saat berbelanja, seorang perempuan sudah akan memikirkan apa saja yang akan dibeli untuk anak pertama, kedua, dan ketiga. Keperluan apa yang harus dibeli dalam sebulan. Cukup tidaknya uang yang dialokasikan untuk biaya hidup sebulan. Sedangkan seorang lelaki, hanya berpikir, "Ah, tinggal gesek kartu kredit saja, selesai." Inilah perbedaan sistem berpikir laki-laki dan perempuan yang harus diakrabi dan diatasi oleh pasangan muslim. Kemampuan berpikir fokus laki-laki sebagai kepala keluarga harus mampu mengingatkan istri sebagai mitra dalam rumah tangga terhadap visi atau target-target keluarga. Kesibukan sehari-hari di rumah kadang membuat seorang istri lupa pada capaian-capaian yang harus diraih keluarga. Inilah tugas suami untuk mengingatkan.

Jangan Sampai Karam Karena Perselingkuhan

Setelah pernikahan berjalan bertahun-tahun, hal yang mungkin menjadi masalah dalam keluarga adalah perselingkuhan. Hal ini bisa menimpa rumah tangga manapun termasuk rumah tangga pasangan yang sudah mendapatkan pembinaan keislaman. Di sebuah kota besar pernah terjadi kasus seorang lelaki yang sudah beristri ternyata dekat dengan seorang perempuan lajang. Mereka sudah sangat dekat bahkan sering makan siang dan makan malam bersama. Sampai pada satu titik lelaki yang sudah menikah ini mendatangi Ustadz Cah. "Ustadz, Ana sudah dekat dengan seorang akhwat, Ana menyukainya begitupun dia. Namun, yang jadi masalah, istri Ana pasti tidak akan mengizinkan saya berpoligami." Saat itu, Ustadz Cah menjawab, "Antum sudah tahu istri tidak akan mengizinkan, mengapa masih tetap dilakukan?" Suami itu dengan ringan menjawab, "Setelah tahun kelima menikah, rasanya istri sudah tidak mengenali Ana lagi." Akhirnya untuk menyelesaikan hal ini dilakukan ilaj atau perbaikan. Lelaki yang berselingkuh itu dipisahkan dari perempuan yang diselingkuhinya. Perlu waktu enam bulan untuk memisahkan mereka sampai benar-benar berpisah.

Enam bulan kemudian, hal mengejutkan terjadi. Ternyata istri dari suami yang berselingkuh itu datang ke rumah Ustadz Cah dan berkata, "Ustadz, suami saya berselingkuh. Apa yang harus saya lakukan? Sekarang saya sudah tidak  bisa berkomunikasi dengan dia lagi." Mendengar pernyataan dan pertanyaan itu, Ustadz Cah menjawab, "Kenapa suami Anti bisa berselingkuh?" Perempuan itu menjawab, "Entahlah, saya sudah tidak mengenalinya lagi. Dia sudah berbeda dengan dia yang dulu."
Inilah akar masalahnya, pasangan suami istri hanya berpatokan pada kondisi pasangannya yang dulu. Kalimat, "Dia sudah tidak seperti yang dulu lagi." adalah tanda sudah usangnya peta kasih antara suami istri. Seperti dalam berkendaraan, orang yang sudah menguasai medan akan mengetahui banyak jalan menuju suatu tempat. Ia tidak hanya mengetahui jalan-jalan utama tapi juga jalan-jalan tikus yang dapat mempercepat menuju tempat yang dimaksud. Bagitupun dalam memahami suami atau istri. Kita tidak hanya harus mengetahui karakter-karakter utamanya tapi juga mengetahui sikap-sikap lain yang mungkin muncul ketika menghadapi berbagai situasi. Kita harus mengetahi peta kasih suami istri kita. Kebuntuan dalam menghadapi masalah terjadi karena kita merasa hanya ada satu jalan untuk menyampaikan kasih kepada pasangan. Yakinlah peta kasih suami istri sangat banyak.

Jangan dikira dalam waktu beberapa tahun kita sudah mengenal pasangan kita. Waktu terus berjalan, kondisi terus berubah. Apalagi teknologi informasi, jejaring sosial, dan fasilitas komuniksi yang semakin mudah, membuat peluang perselingkuhan terbuka lebar. Suami yang dulunya baik, perubahan kondisi kehidupan sangat mungkin menyeretnya menjadi buruk. Ia akan terus terseret dalam keburukan jika istri tidak terus menerus belajar memahami suami dan kondisi yang dialami suaminya. Inilah yang menyebabkan perselingkuhan tadi terjadi. Jika seorang istri tidak belajar terus mengenai suaminya dari berbagai arah, mereka harus siap dengan perubahan drastis. "Dulu dia tidak begini?!" jangan sampai ada kalimat ini. Sikap, warna kesukaan, makanan kesukaan seorang suami mungkin saja berubah. Peta kasih harus terus diperbaharui. Terus kenali pasangan dan cara yang paling mudah adalah dengan ngobrol.

Ibu-ibu sering merasa banyak masalah karena mereka tidak punya tempat menyalurkan keluh kesahnya. Suami mereka malas mendengarkan cerita-cerita dari istrinya. Sedikit saja bercerita, kadang mereka disebut bawel. Padahal hal itu adalah satu cara untuk memperbaharui peta kasih suami istri. Komunikasi yang nyaman adalah komunikasi tanpa prosedur. Seorang istri bisa kapan saja bercerita tentang apapun kepada suaminya. Mereka tidak perlu berkata, "Abi, malam ini Ummi mau cerita sesuatu, penting!" Kalimat ini adalah tanda bahwa komunikasi suami istri tidak berjalan lancar. Komunikasi yang baik antar suami istri membebaskan istri untuk ngobrol kapan saja dan di mana saja.

Hal lain yang dapat memperbarui peta kasih adalah pernyataan cinta. Seorang istri butuh pernyataan dari suaminya. Jika seorang suami hanya menganggap bahwa kesungguhan cintanya sudah terbukti ketika akad, seorang istri tidak demikian. Setiap hari dia selalu ingin memastikan bahwa suaminya masih mencintainya. Ia harus tahu benar bahwa setelah bekerja di luar seharian, berpapasan dan bemuamalah dengan berbagai perempuan, suaminya hanya mencintai dia yang ada di rumah. Ia butuh kepastian bahwa hanya dirinya yang dicintai oleh sang suami. Oleh sebab itu, suami pun perlu menyampaikan cintanya kepada istri.

Yang harus diperhatikan juga adalah, perselingkuhan tidak mengenal jenis kelamin. Seorang lelaki berselingkuh, pasti dengan perempuan. Menyalahkan satu pihak di antara mereka adalah hal yang tidak tepat. Masalah perselingkuhan bagaikan mangkuk yang bertemu dengan tutupnya. Tidak jelas mangkuknya atau tutupnya yang pertama mendekati.  Oleh sebab itu, pencegahan perselingkuhan ini harus dilakukan oleh laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Maka keduanya harus memikul tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga. Keduanya harus bekersama dan terus belajar saling memahami karena rumah tangga adalah pelajaran hidup yang tiada henti. []


Lebih Bodoh Sang Majikan, atau Pelayannya?

Kamis, 24 April 2014
Di sebuah kota, tinggallah pria kaya raya yang hidup ditemani seorang pelayan bodoh. Dia hidup dengan nyaman dan berbalut kemewahan.  Suatu hari, dia memberikan sebuah benda kepada pelayannya dengan sebuah syarat.

“Simpanlah ini di tempat yang aman sampai kamu menemukan seseorang yang lebih bodoh dari  dirimu sendiri. Ketika kamu menemukannya, berikan kepadanya, " kata pria kaya.

“Baik, Pak!” jawab pelayan.

Waktu pun berlalu begitu cepat. Hingga akhirnya, pria kaya itu terserang penyakit parah. Banyak dokter yang berusaha membantunya, tetapi semuanya lepas tangan. Tanda-tanda kesembuhan seakan sirna. Pria itu menyadari, mungkin umurnya tidak panjang lagi. Melihat keadaannya, pria tersebut memanggil pelayannya dan terjadilah sebuah dialog.

“Saya akan segera ‘pergi’. Jika saya telah membuatmu bersedih untuk hal apapun, tolong maafkan saya,” ucap pria itu.

“Pak, ke mana Anda pergi?” tanya pelayan.

“(Ke tempat) di mana semua orang harus ‘pergi’.”

“Kapan Anda akan kembali?”

“Saya pergi ke tempat yang tidak mungkin bisa kembali.”

“Saya paham.  Apakah Anda membuat persiapan untuk kenyamanan Anda di sana, Pak?”

“Tidak.”

“Pak, apakah Anda membuat tempat tinggal untuk melindungi diri dari panas dan dingin?”

“Tidak.”

“Apa Anda telah menyiapkan makanan dan minuman, Pak?”

“Tidak ada.”

Tiba-tiba pelayan itu tertawa. Dia heran dengan ucapan majikannya karena merasa aneh. Pria kaya tersebut juga tampak bingung dengan sikap pelayannya. Namun, sang pelayan melanjutkan pembicaraan.

“Pak, ini sangat mengejutkan. Di dalam rumah sementara  Anda (di dunia), Anda menyiapkan segala macam kegembiraan dan kenyamanan, bangunan dan bungalow, kebun dan taman, pelayan dan pembantu, mobil indah, toko, pabrik, dan segala macam bentuk kemewahan. Tapi untuk rumah abadi Anda (di akhirat), Anda tidak melakukan persiapan apapun.  Sekarang katakan Pak! Di manakah saya bisa menemukan orang yang sangat bodoh selain Anda (sendiri)? Oleh karena itu, saya berikan benda ini kepada Anda,” ujar pelayan tersebut sembari menyerahkan benda yang telah diberikan tuannya di masa lalu.

Sudahkah kita mempersiapkan diri menuju tempat keabadian?

Disadur dari haqislam.org

[Sejarah] Kopi, Minumannya Orang Islam yang Mencerahkan Eropa

Rabu, 23 April 2014


MuslimDaily.net - Selama abad pertengahan di Eropa, satu-satunya minuman pilihan selain air putih adalah alkohol. Di Perancis dan daerah lainnya yang tumbuh buah anggur, air sulingan anggur (wine) adalah minuman yang dominan. Sedangkan bir dan ale lebih populer di wilayah utara jauh.

Meminum air putih jarang dilakukan masyarakat saat itu, karena diyakini minuman alkohol jauh lebih bersih daripada air putih dan lebih mengenyangkan. Padahal akibat dari alkohol ini adalah masyarakat Eropa yang sering teler.

Di Yaman pada pertengangan tahun 1400-an, sebuah minuman baru yang terbuat dari biji kopi mulai sangat populer. Orang-orang Yaman saat itu memanggang biji kopi, kemudian merebusnya untuk menghasilkan minuman yang kaya kafein, sebuah stimulan yang menyebabkan tubuh memiliki lebih banyak energi dan otak menjadi berfikir lebih jernih.

Pada tahun 1400 dan 1500 an, kopi mulai tersebar luas di seluruh dunia Muslim, dan toko-toko kopi mulai bermunculan di kota-kota besar. Kedai-kedai kopi mulai menjadi tempat tongkrongan saat itu, sebagai tempat bersosialisasi dan berkenalan dengan orang lain.

Kemudian pada tahun 1600 an, kedai-kedai kopi mulai menyebar ke dataran Eropa juga. Awalnya terdapat penentangan dari masyarakat Kristen Eropa, karena kopi dianggap "minuman Islam".

Lambat laut kedai kopi menjadi "pusat Pencerahan" terutama di Perancis. Padahal masyarakat Eropa sebelumnya sudah terbiasa dengan minuman alkohol, dan sekarang mereka bertemu di keda-kedai kopi dimana mereka membahas filsafat, pemerintahan, politik dan ide-ide lain yang menjadi pilar pencerahan. Filsuf Pencerahan Perancis seperti Diderot, Voltaire, Roussesau adalah pelanggan tetap di kedai kopi Paris.

Kalau saja bukan karena minuman ini yang berasal dari negeri-negeri Muslim, Eropa mungkin saja tidak pernah memiliki pencerahan, karena para filsuf tidak akan pernah saling bertemu untuk mendiskusikan ide-ide, atau memiliki kejernihan mental (karena sebelumnya tenggelam dalam alkohol) untuk dapat berfikir filosofis.

Asal Kata Kopi
Kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab: قهوة‎ qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda. Penggunaan kata koffie segera diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang dikenal saat ini.

Sumber: Lost Islamic History & Wikipedia


Wahai Rasulullah, Izinkan Aku Berzina!

Selasa, 22 April 2014
Muslimdaily.net - Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad shahih [1], dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا 
“Ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina!”

فأقبل القوم عليه فزجروه و قالوا : مه مه !
“Maka para shahabat pun menghampirinya dan memperingatinya : “Diam kamu! Jangan bicara seperti itu!”

فقال : ادنه ، فدنا منه قريبا قال : فجلس ، 
Kemudian Nabi berkata: “Dekatkan dia padaku”. Pemuda itupun mendekat kepada Nabi, kemudian duduk di dekat beliau.

قال : أتحبه لأمك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لأمهاتهم ، 
Kemudian Nabi bertanya kepada pemuda tersebut : “Apakah engkau suka kalau ibumu berzina?”

Pemuda itu menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”
Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau ibu mereka berzina”

قال : أفتحبه لابنتك ؟ قال : لا والله يا رسول الله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لبناتهم، 
Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau putrimu berzina?”
Dia menjawab : “Demi Allah tidak ya Rasulullah! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”
Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau anak perempuan mereka berzina”

قال : أفتحبه لأختك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لأخواتهم 
Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudari perempuanmu berzina?”
Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”
Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudari perempuan mereka berzina”

قال : أفتحبه لعمتك . قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لعماتهم ، 
Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ayahmu berzina?”
Dia menjawab: “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”
Nabi pun menjawab: “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ayah mereka berzina”

قال : أفتحبه لخالتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : ولا الناس يحبونه لخالاتهم ، 
Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ibumu berzina?”
Dia menjawab: “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”
Nabi pun menjawab: “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ibu mereka berzina”

قال : فوضع يده عليه و قال : اللهم اغفر ذنبه و طهرقلبه و حصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء 

Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau kepada si pemuda itu seraya mendo’akannya :
“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya”
Setelah itupun si pemuda sama sekali tidak punya keinginan lagi untuk berzina. (HR. Ahmad dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
__________________

Allahumma ahbib ilainaa hubba nabiyyika wa hubba man yuhibbuhu. Ya Allah tanamkanlah ke dalam dada kami kecintaan kepada Nabi Mu dan kepada mereka yang mencintainya. 
Ikhwah Fillah rahimakumullah, apa kira-kira pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits berikut ini?

Kenapa Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam tidak langsung menyebutkan ayat tentang hukuman zina atau menyampaikan teguran tentang besarnya dosa zina? 

Tidak jarang jawaban irsyady lebih mengena dibanding jawaban ilmyJawaban irsyadi adalah jawaban yang bersifat mengarahkan seseorang untuk berfikir kembali tentang pertanyaan yang telah dilontarkannya. Sedangkan jawaban 'ilmiy adalah jawaban yang berdasarkan ilmu. 

Intinya, menghadapi anak SD sebaiknya memakai bahasa anak SD, menghadapi mahasiswa memakai bahasa mahasiswa. Jangan dibalik sehingga kebenaran Islam menjadi didustakan bukan karena meragukan kebenarannya tetapi karena cara kita menyampaikannya yang asal tanpa mempertimbangkan aspek kebijakan.

[Fuad Al Hazimi]

Apa Arti Pernikahan Bagi Anda?

Senin, 21 April 2014
Pesta pernikahan yang mewah? Atau komitmen seumur hidup? 

Sebuah pilihan atau keputusan yang harus Anda buat.

Beberapa jawaban dari orang-orang yang saya tanya memberikan kesan positif, ada juga yang negatif. Alhamdulilah, beberapa mengilhami saya dan mengembirakan hati saya,. Namun ada pula jawaban sejumlah orang yang membuat saya bersedih dan benar-benar membuka mata saya bagaimana dunia saat ini.

Ketika pernikahan hanya menjadi acara pernikahan dan pesta mewah, lalu apa yang akan terjadi setelah pesta berlangsung? Uang telah habis dan yang tersisa adalah 2 orang anak manusia yang hidup bersama, tidak pernah saling mencintai karena Allah SWT semata?

Jumlah uang yang dihabiskan untuk pernikahan tidak mendefinisikan cinta dua orang yang menikah, tetapi pesta pernikahan mewah dalam masyarakat kita telah menjadi suatu tren atau gaya hidup.

‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.’ (QS Ar Rum:21)

Allah membuat jelas kepada kita dalam Al Quran bahwa Dia mengijinkan kita untuk menikah di dunia ini agar kita bahagia dan saling mangasihi satu sama lain. Akan menjadi rugi menikah karena pesta, uang atau alasan lain selain apa yang Allah telah  gariskan bagi kita dalam ayat Al Quran atas.

‘Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ (QS Al Furqan:74)

Allah membuat jelas bahwa kehidupan keluarga dengan suami yang penuh kasih, istri dan anak-anak akan menjaga mereka dalam kedamaian dan kebahagiaan karena mereka tidak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini.
Ayat favorit saya dari semua ayat Al Quran ketika berhubungan dengan pernikahan adalah:

‘Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.’ (QS Al Baqarah:187)

Ayat ini diturunkan dari Allah agar jelas bagi kita bagaimana pentingnya suami dan istri bagi satu sama lain, mereka saling melengkapi. Dalam kehidupan ini mereka adalah sahabat Anda untuk mencintai dan merawat dan menjalani ujian hidup bersama-sama. Dalam kehidupan berikutnya mereka adalah sahabat yang kekal di surga.

Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:
“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia (menikah) dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu (menikah) hendaknya ia berpuasa, sebab ia (puasa) dapat mengendalikan (hawa nafsu) mu.”  (HR.Muslim, 3231)

Allah telah menjelaskan kepada umat manusia bahwa menikah sangat dianjurkan karena mencegah agar tidak melakukan dosa besar seperti diuraikan di atas. Saya mengerti bagi mereka yang belum menikah dan ingin menikah, tidaklah mudah untuk menemukan pasangan hidup yang cocok tanpa mengenal mereka terlebih dahulu . Bila Anda ingin bertemu dengan seseorang yang Anda tertarik untuk bisa menikah dengan Anda, maka Anda berdua bisa bertemu secara langsung bila ditemani oleh mahram anda. Dengan cara ini, Anda bisa mengenal satu sama lain dengan cara yang halal.

Kawin Paksa?

Dalam hal kawin paksa, Islam mengajarkan bahwa persetujuan dari kedua, baik pria dan wanita adalah suatu keharusan sebelum pernikahan dilangsungkan. Al Quran menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa ....” (QS An Nisa:19)

Mempelajari agama dengan baik sebelum menikah adalah cara yang terbaik untuk mendidik diri dan menyiapkan diri sebelum mengarungi bahtera rmah tangga.  

Ditulis oleh: Diva Allot dan diterjemahkan dari situs onislam.net


Investasi Dunia Akhirat

Rabu, 16 April 2014
Oleh: KH Didin Hafidhuddin
 
Anak (al walad atau al banun) dan harta (al maal) adalah dua elemen penting dalam kehidupan manusia, yang sering diungkapkan dalam Al Quran dalam satu ayat.

Misalnya firman Allah dalam Surat Al Anfaal (8) ayat 28 : "Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anak mu itu hanyalah sebagai cobaan. Dan sesungguhnya di sisi Allah terdapat pahala yang sangat besar."  

Hal yang semakna walaupun dalam konteks yang berbeda misalnya kita temukan dalam firman Allah surat Al Kahfi (18) ayat 46, surat Al Munafiquun (63) ayat 9 dan surat At Taghobuun (64) ayat 14 & 15.
    
Para mufassir menyatakan paling tidak terdapat dua pelajaran penting yang bisa diambil kenapa anak dan harta sering dikemukakan dalam satu ayat.

Pertama: Adalah sudah menjadi naluriah dan fitrah setiap manusia untuk mencintai kedua hal ini. Keduanya sudah build in masuk dalam struktur ruhani dan struktur berfikir setiap manusia tanpa harus diajarkan.

Kecintaan kepada keduanya adalah lintas suku, lintas profesi dan keahlian, lintas pendidikan, lintas jenis kelamin, lintas status sosial, bahkan juga lintas kebangsaan dan agama.

Hal ini sebagaimana digambarkan secara jelas dalam Al Quran Surat Ali Imron (3) ayat 14. Bahkan dalam sebuah hadits sahih Rasulullah saw bersabda, "Andaikan seseorang sudah memiliki bongkahan-bongkahan emas yang memenuhi dua lembah pegunungan, pasti ia akan mencari lembah yang ketiganya, dan akan berhenti ketika perutnya sudah menempel ke tanah (mati)."
   
Kedua : Anak dan harta adalah dua variabel utama dan sangat penting yang menjadi penyebab keselamatan dan kecelakaan manusia. Jika anak dididik dengan pendidikan agama dan akhlak yang baik, sehingga menjadi anak sholeh, ia akan menjadi investasi dunia akhirat yang menguntungkan, memberkahkan, menenangkan, sekaligus menjadi penyebab keselamatan kedua orang tuanya.

Sebaliknya jika tidak dididik dengan pendidikan aqidah dan ibadah yang benar serta akhlak yang mulia, kemudian menjadi anak yang durhaka, ia akan menjadi penyebab kecelakaan kedua orang tuanya.

Demikian pula harta, jika didapatkan dengan cara yang benar dan dimanfaatkan untuk kebaikan diri, keluarga maupun masyarakat, menjadi sarana ibadah, ia akan menjadi penyebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya jika didapatkan dengan cara yang tidak benar, maka akan mencelakakan dunia dan akhirat.

Berbagai kasus korupsi yang terjadi sekarang ini, hendaknya menyadarkan kita semua, harta yang didapatkan dengan cara yang tidak benar akan menghancurkan kehidupan kita di dunia ini apalagi di akhirat. Demikian pula anak keturunan kita. Wallahu Alam bi Ash Shawab

Renungan Menghadapi Kematian

Selasa, 15 April 2014
At Tauhid edisi VII/26

Oleh: Hanif Nur Fauzi

“Seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap insan… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan…”

Kematian Adalah Kepastian
Betapa banyak berita kematian yang sampai di telinga kita, mungkin mengkhabarkan bahwa tetangga kita, kerabat kita, saudara kita atau teman kita telah meninggal dunia, menghadap Allah Ta’ala. Akan tetapi betapa sedikit dari diri kita yang mampu mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut. Saudaraku, kita tidak memungkiri bahwa datangnya kematian itu adalah pasti. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Realita telah membuktikannya. Allah Ta’ala telah berfirman.

“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran : 185)

Allah Ta’ala juga telah berfirman,
“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan mendatangi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang nampak, kemudian Allah Ta’ala akan memberitahukan kepada kalian setiap amalan yang dahulu kalian pernah kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8)

Saudaraku, kematian itu milik setiap manusia. Semuanya akan menjumpai kematian pada saatnya. Entah di belahan bumi mana kah manusia itu berada, entah bagaimanapun keadaanya, laki-laki atau perempuan kah, kaya atau miskin kah, tua atau muda kah, semuanya akan mati jika sudah tiba saatnya. Allah Ta’ala berfirman,
 “Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat, meskipun hanya sesaat” (QS. Al A’raf :34)

Saudaraku, silakan berlindung di tempat manapun, tempat yang sekiranya adalah tempat paling aman menjadi persembunyian. Mungkin kita bisa lari dari kejaran musuh, selamat dari kejaran binatang buas, lolos dari kepungan bencana alam. Namun, kematian itu tetap akan menjemput diri kita, jika Allah Ta’ala sudah menetapkan. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. An Nisa : 78)

Kematian Adalah Rahasia Sang Pencipta
Kematian manusia sudah Allah Ta’ala tetapkan atas setiap hamba-Nya sejak awal penciptaan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya proses penciptaan manusia di dalam perut ibu, berlangsung selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah yang menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging  selama 40 hari juga. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, dan diperintahkan untuk mencatat empat ketetapan : rezekinya, kematiannya, amalannya, dan akhir kehidupannya, menjadi orang bahagia ataukah orang yang celaka….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala telah berfirman,
“Sesungguhnya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang (kapankah) datangnya hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan air hujan, dan Dia lah yang mengetahui tentang apa yang ada di dalam rahim, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan esok hari, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati..” (QS. Luqman : 34)

Saudaraku, jika kita tidak tahu di bumi manakah kita akan mati, di waktu kapan kah kita akan meninggal, dan dengan cara apakah kita akan mengakhiri kehidupan dunia ini, masih kah kita merasa aman dari intaian kematian…? Siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa menghirup segarnya udara pagi esok hari…? Siapa yang bisa menjamin kita bisa tertawa esok hari…? Atau…. siapa tahu sebentar lagi giliran kematian Anda wahai Saudaraku…

Di manakah saudara-saudara kita yang telah meninggal saat ini…? Yang beberapa waktu silam masih sempat tertawa dan bercanda bersama kita… Saat ini mereka sendiri di tengah gelapnya himpitan kuburan… Berbahagialah mereka yang meninggal dengan membawa amalan sholeh… dan sungguh celaka mereka yang meninggal dengan membawa dosa dan kemaksiatan…

Faidah Mengingat Kematian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan dunia”. Kemudian para shahabat bertanya. “Wahai Rasulullah apakah itu pemutus kelezatan dunia?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, hadits dari shahabat Abu Hurairah)

Ad Daqaaq rahimahullahu mengatakan, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dianugerahi oleh Allah tiga keutamaan, [1] bersegera dalam bertaubat, [2] giat dan semangat dalam beribadah kepada Allah, [3] rasa qana’ah dalam hati (menerima setiap pemberian Allah)” (Al Qiyamah Ash Shugra, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar)

Bersegera dalam Bertaubat
Sudah dapat dipastikan bahwa manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan kemaksiatan. Seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya sadar bahwa kematian senantiasa mengintai. Dia tidak ingin menghadap Allah Ta’ala dengan membawa setumpuk dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Dia akan sesegera mungkin bertaubat atas dosa dan kesalahannya, kembali kepada Allah Ta’ala. Allah telah berfirman,

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dikarenakan kebodohannya, kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS. An Nisa : 17)

Maksud dari berbuat keburukan karena kebodohan dalam ayat di atas, bukanlah kebodohan seorang yang tidak mengetahui sama sekali bahwa apa yang dia kerjakan merupakan sebuah keburukan. Orang yang berbuat buruk dan tidak mengetahui sama sekali tidak akan dihukum oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud kebodohan di sini adalah seseorang yang mengetahui bahwa apa yang dia lakukan adalah keburukan, namun dia tetap saja melakukannya lantaran dirinya dikuasai oleh hawa nafsu. Inilah makna kebodohan dalam ayat di atas. (Syarah Qowaidul Arba’ Syaikh Sholeh Fauzan).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan (oleh Allah) bagi orang-orang ynag bertaqwa” (QS. Ali Imran : 133)

Giat dan Semangat dalam Beribadah kepada Allah
Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Jadilah engkau di dunia ini bagaikan seorang yang asing atau seorang yang sedang menempuh perjalanan yang jauh”, mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lantas Abdullah ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan engkau tunggu datangnya pagi hari, jika engkau berada di pagi hari jangan engkau tunggu datangnya sore hari, pergunakanlah waktu sehatmu (dalam ketaatan kepada Allah) sebelum datangnya waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum kematian datang menjemputmu.” (HR. Bukhari)

Rasa Qana’ah di Dalam Hati
Allah Ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati seseorang yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ah yang membuat seseorang merasa cukup terhadap setiap pemberian Allah Ta’ala, bagaimanapun dan berapa pun pemberian Allah. Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,
“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, dan beliau memerintahkan aku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Seseorang yang banyak mengingat kematian, meyakini bahwa segala pemberian Allah dari perbendaharaan dunia adalah titipan dari Allah. Seluruhnya akan diambil kembali oleh Allah, dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala atas seluruh pemberian tersebut. Nas’alullaha al afiyah.

Kehidupan setelah Kematian
“Saudaraku, seandainya kematian merupakan tempat peristirahatan yang tenang dari seluruh keluh kesah hidup manusia di dunia… niscaya kematian merupakan suatu kabar gembira yang dinanti-natikan bagi setiap manusia… Akan tetapi kenyataannya berbeda… setelah kematian itu ada pertanggung jawaban dan ada kehidupan… kehidupan yang sebenarnya…”

Diantara keimanan kepada hari kiamat adalah meyakini bahwa setelah kematian ini ada kehidupan. Semuanya akan berlanjut ke alam kubur kemudian ke alam akhirat. Di sana ada pengadilan Allah Ta’ala yang Maha Adil. Semua manusia akan diadili, mempertanggungjawabkan setiap amalan yang dia perbuat. Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang berbuat kebaikan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat hasilnya, dan barang siapa yang berbuat keburukan meskipun sekecil biji dzarah, niscaya dia akan melihat akibatnya” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Terakhir Saudaraku, jadilah orang yang cerdas. Orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini. Abdullah Ibnu Umar dia pernah berkata, ‘Aku bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdas.’” (HR. Ibnu Majah)

Semoga bermanfaat. Allahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq

[Hanif Nur Fauzi]

In Memoriam Teddy Eka Vibiarta ...... Semoga di muliakan di sisi-Nya. Amin ....

 

Larangan Berbuat Sombong

Senin, 14 April 2014
Oleh: Ahmad Dzawil Faza
Manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah sebagai khalifah fil ardh. Artinya manusia diberi kewenangan untuk mengatur dan memanfaatkan segala yang ada di bumi guna memenuhi kebutuhannya dengan syarat tetap taat dan patuh kepada aturan Allah SWT.

Karena sebagai khalifah, maka segala segala yang ada di muka bumi adalah hanya titipan dari Dzat yang Maha Memiliki, yakni Allah Azza Wajalla. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita sebagai hamba bersikap sombong atau takabur.

Karena sifat ini hanya dimiliki oleh Allah dan manusia dilarang untuk membanggakan dirinya. Sebagaimana Allah berfirman,  “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).

Rasulullah SAW pun dengan tegas melarang umatnya agar menjauhi sifat ini. Dalam suatu riwayat Rasulullah bersabda, “Maukah kuberitahukan kepada kalian siapakah penghuni neraka itu? Yaitu setiap orang yang berperilaku bengis, kasar, dan menyombongkan diri.”  (HR Bukhari-Muslim)

Banyak dari manusia yang tidak tahu bahwa setan sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggelincirkan manusia dari jalan Allah. Mereka menggunakan tipu daya yang seindah mungkin untuk mengajak manusia berada dalam barisannya.

Manusia yang memiliki iman dan tetap berpegang teguh kepada perintah Allah dan sunah Rasulullah akan mampu menghancurkan siasat dan bujukan setan tersebut. Dan manusia yang jauh dari Allah dan sunah rasulnya yang akan terpengaruhi oleh mereka.

Hal yang dilakukan syetan salah satunya adalah menanamkan sifat sombong dalam diri manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki akal dan keutamaan dari pada makhluk lain. Selain itu, hasil yang didapat adalah dari kerja keras sendiri tanpa ada campur tangan Allah SWT. Na’udzubillah.

Balasan Allah SWT kepada orang-orang yang demikian adalah siksa yang pedih di akhirat nanti. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang kelak Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa), dan tidak akan melihat mereka (dengan pandangan rahmat), sedang mereka akan memperoleh siksa yang amat pedih, yakni laki-laki yang berzina, pemimpin yang berdusta, dan orang miskin yang sombong.”

Oleh karena itu, wahai saudaraku marilah kita jauhi sifat sombong dan ujub agar kita senantiasa mendapat rahmat dan maghfirah dari Allah SWT serta tergolong dalam barisan umat Rasulullah SAW, dan mendapat syafaat Beliau kelak di akhir zaman. Yaitu dengan senantiasa tetap membentengi diri kita dengan tali agama Allah dan sunah Rasulullah. Wallahua’lam.


Setan Berkalung Serban

Minggu, 13 April 2014
Oleh: Prof KH Ali Mustafa Ya'qub
Dalam kitab Sahih al-Bukhari, ada kisah menarik. Sahabat Abu Hurairah ditugasi Nabi SAW untuk menjaga gandum hasil zakat. Tiba-tiba, pada malam hari ada seorang lelaki berbadan kekar dengan memanggul karung mencuri gandum tersebut.

Abu Hurairah kemudian menangkapnya dan akan menghadapkannya kepada Nabi, tapi pencuri tadi memelas, dia merayu Abu Hurairah agar melepaskannya. Abu Hurairah kemudian melepaskannya dan memintanya berjanji agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Esok harinya, Abu Hurairah ditanya Nabi, “Hai Abu Hurairah, apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kamu tangkap tadi malam?” Abu Hurairah menceritakan kejadian itu kepada beliau. Nabi kemudian berkata, “Awasilah, nanti malam dia akan datang lagi.”

Benar, pada malam kedua pencuri itu datang lagi dan mencuri gandum. Abu Hurairah menangkapnya lagi dan pencuri itu kembali merayu sehingga Abu Hurairah melepaskannya.

Esok harinya, Nabi menanyakan kepada Abu Hurairah seperti pertanyaan yang kemarin, Abu Hurairah juga menjawab seperti itu. Nabi kemudian berkata, “Ingatlah, nanti malam dia akan datang lagi.

Abu Hurairah mulai curiga, mengapa pencuri ini terus melakukannya. Dan, Abu Hurairah berjanji dalam hati, “Nanti malam, tidak mungkin aku lepaskan kalau dia mencuri lagi.” Benar, pada malam ketiga pencuri itu datang dan mencuri lagi.

Maka, Abu Hurairah seperti janji pada dirinya akan melaporkan dan membawa pencuri itu kepada Nabi, Abu Hurairah tidak akan melepaskannya.

Namun, sebelum berangkat menghadap Nabi, pencuri itu meminta kepada Abu Hurairah untuk sedikit berbicara dan Abu Hurairah mempersilakannya. “Hai Abu Hurairah, maukah kamu saya beri amalan-amalan?” begitu kata pencuri tadi kepada Abu Hurairah.

Abu Hurairah langsung kaget, dalam hati ia berkata, “Ini pencuri kok mau ngasih amalan-amalan. Jangan-jangan dia seorang ustaz.” Abu Hurairah pun penasaran. Maklum, para sahabat Nabi senang dengan amalan-amalan.

Amalan apakah itu?” tanya Abu Hurairah. Pencuri tadi menjawab, “Hai Abu Hurairah, bacalah ayat Kursi sebelum kamu tidur maka Allah akan menjaga kamu malam itu dari godaan setan.” Mendengar jawaban itu, Abu Hurairah langsung melepaskannya. 

Dalam hati, ia berkata, “Pencuri ini benar-benar seorang ustaz.” Esok harinya, Nabi menanyakan hal itu lagi kepada Abu Hurairah dan Abu Hurairah menceritakan pencuri itu memberikan amalan. Nabi kemudian menanyakan, “Amalan apakah itu?”

Abu Hurairah menjawab seperti yang dikatakan pencuri itu tadi malam. Nabi berkata, “Amalan yang dia berikan itu benar, tetapi dia itu bohong.” Nabi kemudian bertanya, “Hai Abu Hurairah, tahukan kamu siapakah yang datang tiga malam berturut-turut itu?

Abu Hurairah menjawab, “Tidak tahu.” Nabi berkata, “Dia itu adalah setan.” Dari hadis ini, ada pelajaran menarik. Pertama, setan dapat menjelma menjadi manusia.

Kedua, dalam rangka mengecoh dan mencari korban, setan dapat menjelma menjadi sorang ustaz ataupun ustazah dengan segala atribut dan nasihat-nasihatnya. Di sinilah, banyak orang terkecoh dengan penampilan setan.

Apabila yang digoda seorang yang senang beribadah, setan tidak akan menyuruhnya bermain judi, mencuri, korupsi, dan sebagainya. Tetapi, setan menyerunya melakukan perbuatan yang lahiriahnya adalah sebuah ibadah.

Ketika sebuah ibadah dilakukan tidak dalam rangka menjalankan perintah Allah dan atau rasul-Nya, apalagi dalam rangka memenuhi keinginan selera alias hawa nafsu yang dibisik oleh setan, di sinilah ibadah itu bukan untuk Allah, melainkan untuk setan.

Untung, Abu Hurairah diberitahu Nabi bahwa wiridan tersebut benar, sehingga ia megamalkannya bukan karena mengikuti perintah setan, tapi mengikuti perintah Nabi.

Hadis ini juga memberikan peringatan kepada kita agar hati-hati menghadapi rayuan setan karena boleh jadi setan betina tampil dengan jilbab dan busana Muslimah dan setan jantan tampil dengan berkalung serban.


Penyebab Dosa Kecil Menjadi Dosa Besar

Kamis, 10 April 2014
Sebagai  makhluk Allah  kita tidak luput dari dosa, maksiat, dan aneka kesalahan. Di antara makhluk-Nya yang tidak pernah luput tersebut akan disebut baik jika mereka bersegera bertaubat. Sabda Nabi SAW, "Setiap anak Adam pernah berbuat dosa dan sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yang bergera bertaubat." (HR Muslim).

Di antara kebiasaan kita adalah menganggap enteng dosa kecil, seperti berbohong, gibah (gosip), dan mengadu domba. Dalam pandangan Rasulullah SAW, menganggap enteng dosa kecil adalah sebuah respons perilaku yang tidak baik. Bahkan, akan menjadi dosa besar yang kita anggap dosa kecil tersebut.

Pertama, jika dilakukan terus-menerus. "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui." (QS Ali Imran[3]:135). Ibnu Qoyyim mengatakan, dosa besar yang hanya dilakukan sekali lebih bisa diharapkan pengampunannya daripada dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Kedua, jika seorang hamba meremehkannya. Setiap kali seorang hamba menganggap besar sebuah dosa niscaya akan kecil di sisi Allah, dan setiap kali ia menganggap remeh sebuah dosa niscaya akan menjadi besar di sisi-Nya. Abdullah bin Mas'ud ra berkata, "Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan gunung yang akan runtuh menimpa dirinya, sedangkan seorang pendosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang menclok di hidungnya, cukup diusir dengan tangannya." (HR Bukhari Muslim). Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata, "Jangan kamu memandang kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat dosa itu."

Ketiga, jika dilakukan dengan bangga atau minta dipuji.  Seperti seseorang yang mengatakan, "Lihat, bagaimana hebatnya saya mempermalukan orang itu di depan umum?" Atau, seperti ucapan seorang pedagang, "Lihat, bagaimana saya bisa menipu pembeli itu?"

Keempat, jika seseorang melakukan dosa tanpa diketahui orang lain lalu ia menceritakannya dengan bangga kepada orang lain.  Rasulullah SAW bersabda, "Setiap umatku selamat kecuali orang-orang yang terang-terangan berlaku dosa. Dan di antara perbuatan terang-terangan melakukan dosa ialah jika seseorang berdosa di malam hari sementara Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia merobek tirai penutup itu sambil berkata, "Hai Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu." (Bukhari-Muslim).

Kelima, jika yang melakukannya seorang alim yang menjadi panutan. Karena apa yang ia lakukan dicontoh oleh orang lain. Ketika ia melakukan dosa, maka ia juga mendapatkan dosa orang yang mencontohnya. Rasulullah bersabda,  "… dan barang siapa memberi contoh keburukan dalam Islam maka baginya dosa perbuatan itu dan juga dosa orang yang mencontohnya setelah itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa itu dari pelakunya." (Muslim).

Dari kelima kriteria ini, sungguh jika pun itu terjadi tetap akan dipandang baik jika mereka, bersegera bertaubat; menyudahi semua perbuatan zalimnya dan bersumpah  untuk tidak mengulangi lagi. Wallahu a'lam.

Mari Memperbaiki Akhlak

Rabu, 09 April 2014
Akhlak, menurut para pemikir Muslim, menunjuk pada kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan atau perilaku secara spontan. Dikatakan, orang yang memiliki mental penolong, ketika melihat kesulitan-kesulitan yang dialami orang lain, akan memberikan pertolongan secara spontan, tanpa banyak mempertimbangkan atau memikirkan untung-rugi. Jadi, akhlak menunjuk pada hubungan sikap batin dan perilaku secara konsisten.

Apakah akhlak yang merupakan watak dari manusia itu dapat diubah? Jawabnya adalah bisa. Menurut Al Ghazali, akhlak bisa diubah dan diperbaiki, karena jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Oleh sebab itu, ia selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan.

Al Ghazali menambahkan, perbaikan harus dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan pada sikap dan perilaku konstruktif. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui metode berbalik. Sebagai contoh, sifat bodoh harus diubah dengan semangat menuntut ilmu, kikir dengan dermawan, sombong dengan rendah hati, dan rakus dengan puasa. Proses pembiasaan ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara instant tapi membutuhkan waktu, perjuangan, dan kesabaran yang tinggi.

Ibnu Maskawaih, dalam buku Tahdzub Al Akhlaq mengusulkan metode perbaikan akhlak melalui lima cara. Pertama, mencari teman yang baik. Banyak orang terlibat tindak kejahatan karena faktor pertemanan. Kedua, olah pikir. Kegiatan ini perlu untuk kesehatan jiwa, sama dengan olahraga untuk kesehatan tubuh. Ketiga, menjaga kesucian kehormatan diri dengan tidak mengikuti dorongan nafsu. Keempat, menjaga konsistensi antara rencana baik dan tindakan. Kelima, meningkatkan kualitas diri dengan mempelajari kelemahan-kelemahan diri.

Di samping itu, perbaikan akhlak memerlukan idealisme, yaitu komitmen yang tinggi untuk selalu berpihak kepada yang baik dan yang benar. Perbaikan akhlak berbeda dengan perbaikan pada sektor-sektor lain. Perbaikan akhlak tidak dapat diwakilkan karena keputusan untuk berpihak kepada yang baik dan benar itu harus datang dan lahir dari kita sendiri.

Idealisme seperti itu menjadi lebih penting lagi, karena daya tarik kebaikan pada umumnya dikalahkan oleh daya tarik keburukan dan kesenangan duniawi. Pemihakan pada kebaikan sebagai inti dari ajaran akhlak benar-benar membutuhkan komitmen dan tekad yang kuat agar kita sanggup melawan dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan nafsu. Inilah sesungguhnya makna sabda Nabi SAW, ''Surga dipagari oleh kesulitan-kesulitan, sedangkan neraka dipagari oleh kesenangan-kesenangan.''

Betatapun tingkat kesulitan yang dihadapi, perbaikan akhlak harus tetap kita upayakan. Soalnya, agama itu pada akhirnya adalah akhlak. Dalam perspektif ini, seseorang tak dapat disebut beragama jika ia tidak berakhlak. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya aku tidak diutus kecuali untuk membangun kualitas-kualitas moral.'' (HR Malik). Wallahua'lam.


Basahi Bibir dengan Zikir

Senin, 07 April 2014
Zikir itu bukan hanya sampai sebatas mengingat atau menyebut nama Allah. Melainkan berbuah menjadi sebuah bentuk kecintaan seorang hamba yang dengan berzikir itu akan terhindarlah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Bagi para perindu cinta Ilahi, zikir adalah bentuk motivasi akbar yang akan selalu mengingatkan dirinya bahwa ia tidak sendirian. Ia dilihat dan merasa selalu bersama Allah di mana pun mereka berada (ma'iyatullah).

Zikir mengingatkan kedekatan dirinya dengan Dia. Ke mana pun mereka melayangkan pandangannya, hanya tampak wajah Ilahi semata-mata (QS Al-Baqarah [2]: 115, Qaf [50]: 16). Di mana pun dalam keadaan apa pun, seorang hamba yang merindu Ilahi senantiasa merasakan kehadiran dirinya di hadapan Allah. Ia merasakan ada kamera Ilahiah yang terus menerus merekam keadaan dirinya. Mereka selalu  ingin mengingat-Nya karena Allah berfirman : "Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu." (QS Al-Baqarah [2]: 152).
Kebahagiaan apa yang paling puncak, kecuali Allah mengingat diri kita. Kesengsaraan seperti apa yang paling hina nelangsa,  kecuali Allah melupakan hamba-Nya. Maka, seorang hamba yang merintih agar dirinya diingat Allah tentu ketika berzikir ia akan menangis dan kemudian tetesan air matanya berubah menjadi bentuk uluran tangan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok manusia pembawa rahmat.
Dalam zikirnya, ia menyebut dan mengagungkan asma-asma Allah, kemudian mereka mewujudkan setiap ucapannya itu menjadi butiran akhlak yang menerangi kehidupan bagaikan lentera yang berbinar-binar (as-sirajam muniran).

Betapa Allah memuliakan orang-orang yang berzikir. Bahkan Allah menyebut kata sifatnya yaitu "Akbar" untuk memberikan balasan kepada orang-orang yang berzikir kepada-Nya, waladzikrullahi akbar. (QS Al-Ankabut [29]: 45). Pantaslah Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan mereka yang tidak berzikir kepada Tuhannya, seperti orang yang hidup dan orang yang mati." (HR Bukhari, Muslim, Baihaqi, dari Abu Musa RA).

Dalam pandangan Ilahi, seseorang disebut hidup manakala bibirnya tak pernah kering dari menyebut nama Allah. Kesadaran ini melahirkan keberpihakannya hanya kepada Allah. Zikir menumbuhkan sikap bahwa tidak ada yang ia cintai kecuali Allah (laa mahbuba illallah), tidak ada yang ia layani kecuali karena Allah (laa ma'buda ilallah), tidak ada yang ia cari dalam hidupnya kecuali ridha Allah (laa mathluba illallah), tidak ada yang ia tuju kecuali wajah Allah (laa maqshuda illallah).
Pantaslah untuk orang-orang seperti itu, Allah menyampaikan  shalawat atau limpahan rahmat  kemuliaan-Nya, bahkan para malaikat-Nya yang memohon agar mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju terang cahaya. Dan kelak orang- orang yang senantiasa berzikir itu akan mendapatkan ucapan "salam" di surga. (QS Al-Ahzab [33]: 43-44). Wallahu a'lamu bis-shawab.

Bahagiakan Orang Lain

Minggu, 06 April 2014
Oleh: Amir Rifa'i

Allah SWT telah memberikan kepada sebagian orang harta yang banyak. Mereka telah diberi kemewahan oleh Allah, dimudahkan rezekinya, tapi sebagian dari mereka tidak merasakan kebahagiaan.

Sejatinya, Allah SWT telah menunjukkan banyak cara untuk menggapai kebahagiaan. Dan, telah terbukti kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan harta, kemewahan, dan ketenaran. Ada perkara-perkara lain yang bisa menjadikan seseorang bahagia.

Bagaimana caranya agar bisa bahagia? Rasulullah SAW bersabda, “… manusia paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang Muslim atau menjauhkan kesusahan darinya atau membayarkan utangnya atau menghilangkan laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan.” (HR Thabrani).

Beliau mengatakan, amalan menemani seorang Muslim untuk ia tunaikan kebutuhannya adalah amalan yang besar dan agung. Mengapa demikian? Karena, menolong orang lain, menghilangkan rasa laparnya, dan mengatasi kesulitannya merupakan amalan yang dicintai Allah.

Amalan tersebut akan memberikan pula kebahagian kepada para pelakunya. Ada seorang sahabat yang menemui Nabi. Sahabat ini mengeluhkan kekerasan dan kekakuan di dalam hatinya.

Ia tidak merasakan kebahagiaan. Nabi bersabda, “Jika engkau ingin hatimu lunak, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad).

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, apa hubungannya kebahagiaan dengan memberi makan orang miskin? Apa hubungannya kebahagiaan dengan mengusap kepala anak yatim? Apa hubungan hal ini dengan kelembutan hati dan kebahagiaan?

Kita perlu mengingat, dalam agama kita ada sebuah prinsip, yaitu balasan itu sesuai amalan. Jika seorang hamba berusaha menyenangkan hati orang lain, memikirkan kesulitan yang dihadapi orang lain, Allah SWT juga akan menyenangkan hatinya.

Oleh karena itu, kita menemukan sebagian orang berletih-letih dan bersusah payah pergi ke tempat jauh untuk membantu kaum Muslimin yang lain. Mereka tidak pernah merasakan keletihan, padahal itu pekerjaan yang sangat berat.

Mungkin, mereka tidak mendapatkan balasan sepeserpun di dunia, akan tetapi mengapa mereka bisa begitu betah melakukan itu semua? Karena, ada kebahagiaan yang mereka dapatkan. Karena itu, manusia paling berbahagia di muka bumi ini adalah Nabi.

Mengapa? Karena beliau adalah orang yang paling memikirkan bagaimana caranya membahagiakan orang lain. Ummul mukminin, Khadijah, juga pernah memuji sifat suaminya ini ketika Rasulullah SAW merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama.

Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR Al-Bukhari 4572 dan Muslim 231).

Dalam hadis lainnya dikisahkan, ada seorang budak wanita yang masih kecil menarik tangan Nabi untuk menunaikan suatu keperluannya. Nabi membiarkan budak tersebut membawanya ke tempat yang ia inginkan. Mengapa ini semua beliau lakukan?

Karena, beliau sangat ingin memasukkan kebahagiaan di hati orang lain. Rasulullah SAW menjadi orang yang paling berkeinginan membahagiakan orang lain. Perbuatan mulia itu membuat Nabi menjelma menjadi orang paling berbahagia.


Hal yang Membuatku Malu pada Diri Sendiri

Kamis, 03 April 2014
Pernahkah kamu berpikir andai kita perlakukan Quran seperti hape kita saat ini?

Lihat ....

Bagaimana kalau kita selalu membawanya kemanapun kita pergi?? Dalam tas dan saku?

Bagaimana jika kita selalu melihatnya dan membacanya beberapa kali dalam sehari?

Betapa kita gugup dan terburu-buru balik pulang saat lupa membawanya?

Bagaimana jika kita memperlakukan Quran seolah kita tidak bisa hidup tanpanya? dan memang benar, kita tidak bisa hidup tanpanya!!

Bagaimana jika kita berikan Quran kepada anak-anak kita sebagai hadiah?

Bagaimana jika kita selalu sempatkan untuk membacanya disaat bepergian?

Bagaimana jika kita buat dia sebagai prioritas? Seperti contoh status berikut : "Quran is my best friend"

Mungkin hanya 7% yang akan mencoba melakukan hal tersebut.

Jadilah salah satu dari mereka dan sebarkan kepada saudara-saudara muslim lainnya.

Jangan jadi 93% sisanya .....

Coba pikirkan tentang Hari Pembalasan, sekalipun sekali saja.

Kita sadar betul kalo hampir setiap hari selalu membuka dan bertukar pesan, email, dsb dengan teman-teman kita.

Kita share/forward guyonan dan gosip, tapi berapa kali kita buka Quran dan membaca Firman Allah?

Jika kamu bersama teman-temanmu atau keluargamu, bagikan pesan ini kepada mereka!

Terbukti dalam penelitian :
Mendengarkan Quran mengurangi menyebarnya sel kanker di tubuh manusia bahkan menghancurkannya.
Memanjangkan sujud semakin menguatkan ingatan dan mencegah stroke.

Setan berkata :
"Aku heran bagaimana manusia mengatakan mereka cinta Allah tapi mengabaikan perintah-Nya dan mengklaim benci padaku, tapi nyatanya mereka patuh pada rayuanku".

Hanya butuh waktu sebentar untuk menyebarkan pesan ini kepada orang-orang tercinta sebagai pengingat ....


6 Ilmu yang Menyelamatkan Manusia.

Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu'anhu berkata :

Barang siapa yang mengumpulkan enam perkara ini di dalam dirinya, berarti dia telah memohon surga dan berlari dari neraka :

1. Orang yang mengenali Allah, lalu dia mentaati-Nya,

2. Orang yang mengenali syaitan, lalu dia mendurhakainya,

3. Orang yang mengetahui kebenaran, lalu dia mengikutinya,

4. Orang yang mengetahui kebatilan, lalu dia menghindarinya,

5. Orang yang mengetahui dunia, lalu dia menolaknya, dan

6. Orang yang mengetahui akhirat, lalu dia mencarinya.

(Dinukil oleh Syaikh Wahid bin Abdussalam Bali dalam kitabnya Wiqayatuk Insan Minal Jinni was Syaitan).

Jangan Tunda Berbuat Baik

Kemajuan dan kemunduran seseorang dan bahkan sebuah bangsa sangat tergantung pada kesigapan mereka dalam menyegerakan pekerjaan dan aktivitas-produktifnya. Semakin lamban mereka menyelesaikan masalah-masalahnya akan semakin lambat pula majunya, semakin cepat mereka mengelola aktivitasnya maka kemajuan akan segera di depan mata.
Pekerjaan yang bisa kita lakukan di pagi hari tidak selayaknya kita tunda hingga sore hari dan yang bisa kita tuntaskan di siang hari sangat naif bila kita berpikir untuk menyelesaikannya di malam hari. Jalankan aktivitas hari ini dengan sebaik-baiknya karena kita ditentukan oleh hasil kerja kita di hari ini. "Barang siapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya." (HR Muslim).


Dalam hadis yang lain, perintah bersegera dalam kebaikan disampaikan Rasulullah SAW. "Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh karena akan muncul berbagai fitnah yang menyerupai malam yang demikian gelap gulita. Di mana seseorang di pagi hari masih mukmin dan di sore hari menjadi kafir, menjadi mukmin di sore hari namun di pagi hari telah menjadi seorang kafir, dia tukar agamanya dengan dunia." (HR Muslim dan Ahmad).


Mereka yang tidak memiliki aktivitas hanya akan menjadi penebar isu dan desas-desus yang tak bermamfaat. Ketahuilah bahwa saat paling berbahaya bagi akal manusia adalah saat dia ada dalam kekosongan dan kekosongan yang dibiarkan berlanjut akan membuat seseorang terjerat dalam kesedihan yang berkepanjangan. Karena sesungguhnya waktu kosong adalah pencuri yang cerdik dan culas. Maka, obatilah ia dengan kerja keras, kerja cepat, dan kerja ikhlas agar waktu kita berlimpah berkah dan rahmat. Kuburlah waktu kosong kita dengan kesibukan berkesinambungan. Jika Anda tidak bersegera, maka bersiap-siaplah untuk binasa.

Jangan Gila Hormat

Rabu, 02 April 2014
Oleh: M Husnaini

Setelah melewati penantian panjang, kesepakatan itu akhirnya tercapai. Pada Maret 628 M, kaum kafir Makkah mengirim Suhail bin Amr untuk menyepakati butir-butir kesepakatan dalam Perjanjian Hudaibiah.

Rasulullah SAW langsung menyuruh Ali bin Abu Thalib untuk menuliskan setiap butir kesepakatan yang telah disetujui bersama. Ali memulai butir kesepakatan dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Suhail yang ditemani dua warga sesukunya, Mikraz dan Huwaithib, tiba-tiba menyela. “Tentang ar-Rahman ini, sungguh kami tidak mengenalnya,” sergahnya ketus. “Jadi, tuliskan saja Bismika Allahumma, seperti orang-orang biasa menyebut!

Terang saja Ali dan para sahabat lain protes. “Demi Allah, kami tidak akan mau menulis selain Bismillahirrahmanirrahim,” kata Ali tegas. Tetapi, Rasulullah SAW berpikir cepat, tidak tampak terpancing komentar siapa pun. “Tuliskan Bismika Allahumma,” ujar beliau lembut.

Ali tidak berani menolak meski hatinya mendebat. Rasulullah SAW kemudian mendiktekan kalimat berikutnya, “Ini adalah pernyataan kesepakatan gencatan sejata antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr.

Kembali Suhail berulah menyebalkan. “Jika kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentu kami tidak menghalangimu mengunjungi Rumah Suci dan tidak akan memerangimu.” Belum reda kegeraman Ali dan para sahabat, dengan angkuh Suhail meneruskan kalimatnya, “Tulis saja Muhammad putra Abdullah.

Aku telah menuliskan kata Rasulullah,” kata Ali tegas. Suhail meradang. Rasulullah SAW lagi-lagi meminta Ali untuk menghapus kata Rasulullah itu. Kali ini Ali menggeleng. Hatinya perih. Tetapi, Rasulullah SAW meminta Ali menunjukkan mana di antara sederet kalimat yang berbunyi Rasulullah.

Ali menunjuk dengan jarinya. Beliau segera menghapus kata Rasulullah dan menggantinya dengan kata Putra Abdullah. Sungguh luar biasa akhlak Rasulullah SAW. Beliau benar-benar pemimpin hebat yang tidak gila hormat. Rasulullah diakui dunia sebagai pribadi paripurna di segala segi kehidupan.

Anak berbakti, pemuda tangguh, pebisnis sukses, orang tua bijak, pemimpin adil, penguasa bersahaja, pendidik sejati, orator ulung, panglima kondang, suami penyayang, dan seterusnya. Kendati demikian, beliau manusia yang sepi dari pamrih.

Sekarang, justru tidak sedikit di antara kita yang sangat gila hormat. Manusia modern begitu gemar memoles diri agar dapat merengkuh pujian dan sanjungan dari siapa saja. Memang ini tidak salah. Tetapi, jika sampai melampaui batas wajar, tentu lain ceritanya.

Kerap kita temukan orang yang ketika berbicara selalu mengaitkan dirinya dengan nama-nama besar. Ingin menegaskan dirinya memiliki hubungan dekat dengan orang-orang hebat itu. Padahal, sebenarnya sosok-sosok markotop yang dicatutnya sama sekali tidak mengenal dirinya.

Perhatikan pula foto-foto orang yang dipampang di media jejaring sosial, semacam Facebook, Instagram, Twitter, dan semisalnya. Tidak sedikit yang begitu gemar pamer gambar-gambar dirinya bersama para tokoh.

Seolah hendak bilang dirinya akrab dengan pribadi-pribadi ternama itu. Padahal, boleh jadi dia hanya kebetulan nimbrung dalam suatu acara dan berkesempatan berfoto ria bersama tokoh bersangkutan.

Lucunya, ada orang yang menggelari dirinya sendiri dengan gelar ustaz atau kiai. Tadinya, istilah kiai merupakan sebutan untuk sebuah benda atau hewan bertuah.

Misalnya, tombak Kiai Plered dan kerbau Kiai Slamet dari Keraton Surakarta, gamelan Kiai Sekati dari Solo, serta bendera Kiai Tunggul Wulung, dan gajah Kiai Rebo dan Kiai Wage dari Yogyakarta.

Umumnya, orang disebut kiai karena kemurnian ibadahnya, kehalusan budinya, kemantapan ilmunya, keluhuran pribadinya, kesantunan tutur ucapannya, keikhlasan pengabdiannya, kebesaran perjuangannya, kegigihan dakwahnya, dan seterusnya. Yang menggelari demikian tentunya masyarakat.

Bila mengacu Alquran, istilah kiai barangkali sama dengan ulama (QS Fathir [35]: 28). Jika demikian, berarti gelar mulia itu sesungguhnya datang dari Allah.

Alangkah narsis dan tidak tahu malunya jika kita menokohkan diri sendiri sebagai kiai, susuhunan, sinuwun, ki ageng, penghulu, sedangkan masyarakat sama sekali tidak menganggap demikian.

Ada yang lebih mengerikan. Seperti, orang marah-marah karena sepulang dari haji, tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah. Padahal, haji adalah ibadah dalam rukun Islam, seperti shalat, zakat, puasa.

Entah sejak kapan orang beribadah haji lantas dipasang gelar Haji atau Hajjah di depan namanya. Padahal, tidak ada orang yang dipanggil Pak Shalat, Bu Zakat, Mas Puasa.

Mengapa hanya ibadah haji yang melekat pada nama orang? Mungkinkah karena ibadah itu membutuhkan biaya banyak sehingga harus ada simbol sosial tertentu yang melekat pada nama pelakunya? Penggila hormat memang selalu ingin lekas terkenal. Tidak peduli meski harus dengan cara-cara instan.

Karena itu, mereka umumnya membaca sedikit berbicara banyak, mengkaji sedikit berkomentar banyak, menulis sedikit mencela banyak, mengamati sedikit mengkritik banyak, memahami sedikit menyalahkan banyak, dan beribadah sedikit meminta banyak.

Ingatlah sebuah hadis hasan yang dibawakan Tirmidzi. Rasulullah bersabda, “Barang siapa merasa senang orang-orang berdiri untuk menyambutnya, hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” Sepatutnya hadis di atas kita jadikan bahan perenungan.


Bersabarlah Jika Saudaramu ....

Selasa, 01 April 2014
Jika saudaramu sangat semangat mencari-cari kesalahanmu,
Seharusnya kamu lebih semangat memperbaiki kesalahanmu dan menebar kebaikanmu ...

Jika saudaramu kerap menimpukmu dengan berbagai tuduhan dan prasangka,
Timpuklah dia dengan berbagai doa dan kerja mulia ...

Pepatah Arab :
Jadilah bagai pohon, mereka timpuk dia dengan batu,  dia timpuk mereka dengan buah ...


Jika saudaramu pandai menyusun kata-kata memojokkan,
Pandailah engaku menyusun kerja-kerja memuaskan ...

Jika saudaramu sibuk menebar keragu-raguan terhadap niat dan kerjamu,
Sibuklah engkau menebar cinta dan karyamu ...

Pada akhirnya, orang-orang akan lebih percaya pada apa yang mereka rasakan dan lihat darimu,
dan bukan pada apa yang mereka dengar dan bicarakan tentangmu ...

(Riyadh, Abdullah Haidir, LC.)