Waspada: Usangnya Peta Kasih Suami Istri

Minggu, 27 April 2014
oleh: Cahyadi Takariawan

Setiap keluarga muslim yang telah terbiasa mendapatkan pembinaan keislaman, visi besar pernikahan mereka pasti sudah jelas. Menjadikan rumah tangga sebagai surga di dunia untuk menggapai surga di akhirat sudah pasti disepakati oleh suami istri. Dengan kesamaan visi ini, kita tidak akan mengalami masalah besar dalam rumah tangga. Masalah yang sering timbul dalam rumah tangga muslim justru adalah masalah yang datang dari hal-hal kecil yang remeh temeh. Hal-hal kecil ini biasanya yang menumpuk menjadi hal besar dan membuat peta kasih suami istri menjadi usang.

Pada Awal Pernikahan

Sebagai contoh dalam soal masakan. Laki-laki dan perempuan menikah dan membawa modal kehidupan berdasarkan latar belakang keluarga masing masing. Bagi seorang anak, masakan yang enak adalah masakan ibunya karena referensi makanan yang paling sering mereka nikmati adalah masakan ibu. Sebutlah si Fulan, seorang lelaki yang terbiasa memakan masakan berMSG. Ibunya biasa membubuhkan MSG dalam sayuran, tumisan, sambal, bahkan nasi. Ibunya menganggap bahwa nasi akan terasa lebih enak apabila dibubuhi MSG. Lalu lelaki ini menikah dengan Fulanah yang ibunya tidak pernah menggunakan MSG. Sang ibu berkata bahwa hanya perempuan yang tidak percaya diri dengan kualitas masalakannya yang memasak menggunakan MSG. Dengan keyakinannya akhirnya pada hari pertama pernikahannya Fulanah memasak tanpa menggunakan MSG. Setelah dihidangkan, ternyata sang suami berkata bahwa masakan istrinya tidak enak karena tidak menggunakan MSG. Walhasil, pertengkaran pertama pun muncul hanya karena perbedaan selera masakan. Cara mengatasi masalah kecil inilah yang harus disiapkan oleh lelaki dan perempuan yang akan menikah. Budaya diskusi harusi dimulai sejak awal pernikahan.

Berdua Di Tengah Bahtera

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh suami istri adalah perbedaan mereka dalam memandang sesuatu. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga berada pada masa awal menyekolahkan anaknya. Seorang suami berkata, "hari pertama masuk TK anak kita nangis atau tidak?" Pertanyaan sederhana itu ternyata dijawab oleh sang istri dengan jawaban panjang, "Hari ini anak kita senang sekali. Ternyata dia sekelas dengan anaknya ketua RW kita yang rumahnya di depan itu lho! Ada juga anaknya ibu yang jualan di depan gang kita. Karena nggak ada yang jemput, tapi anaknya ibu itu pulang bareng kita." Pertanyaan singkat yang memerlukan jawaban "ya" atau "tidak" dijawab panjang lebar oleh seorang istri. Sang suami akhirnya berkata, "Jadi, tadi anak kita nangis atau tidak?" Inilah yang memungkinkan timbul masalah. Perbedaan sistem otak perempuan dan laki-laki harus dipahami oleh masing-masing.

Laki-laki memiliki sistem berpikir tunggal. Mereka umumnya fokus pada satu hal dan tidak bisa berpikir bercabang-cabang. Sebaliknya, perempuan memiliki sistem berpikir majemuk sehingga dapat memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Itulah mengapa ketika bercerita perempuan suka menjelaskan banyak hal sebelum masuk ke inti pembicaraan. Hal ini harus dapat dipahami oleh seorang suami. Begitupun pada pandangan, laki-laki memandang fokus sedangkan perempuan memandang lebih melebar. Contohnya ketika membuka kulkas, seorang perempuan ketika membuka pintu kulkas, ia sudah mengetahui di mana letak-letak makanan yang disimpannya.

Sistem berpikir majemuk inilah yang membuat perempuan pada pagi hari mampu menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu. Pada saat bersamaan mereka memasak, menyapu, menyiapkan seragam sekolah anaknya, dan menyuapi anaknya yang paling kecil. Saat berbelanja, seorang perempuan sudah akan memikirkan apa saja yang akan dibeli untuk anak pertama, kedua, dan ketiga. Keperluan apa yang harus dibeli dalam sebulan. Cukup tidaknya uang yang dialokasikan untuk biaya hidup sebulan. Sedangkan seorang lelaki, hanya berpikir, "Ah, tinggal gesek kartu kredit saja, selesai." Inilah perbedaan sistem berpikir laki-laki dan perempuan yang harus diakrabi dan diatasi oleh pasangan muslim. Kemampuan berpikir fokus laki-laki sebagai kepala keluarga harus mampu mengingatkan istri sebagai mitra dalam rumah tangga terhadap visi atau target-target keluarga. Kesibukan sehari-hari di rumah kadang membuat seorang istri lupa pada capaian-capaian yang harus diraih keluarga. Inilah tugas suami untuk mengingatkan.

Jangan Sampai Karam Karena Perselingkuhan

Setelah pernikahan berjalan bertahun-tahun, hal yang mungkin menjadi masalah dalam keluarga adalah perselingkuhan. Hal ini bisa menimpa rumah tangga manapun termasuk rumah tangga pasangan yang sudah mendapatkan pembinaan keislaman. Di sebuah kota besar pernah terjadi kasus seorang lelaki yang sudah beristri ternyata dekat dengan seorang perempuan lajang. Mereka sudah sangat dekat bahkan sering makan siang dan makan malam bersama. Sampai pada satu titik lelaki yang sudah menikah ini mendatangi Ustadz Cah. "Ustadz, Ana sudah dekat dengan seorang akhwat, Ana menyukainya begitupun dia. Namun, yang jadi masalah, istri Ana pasti tidak akan mengizinkan saya berpoligami." Saat itu, Ustadz Cah menjawab, "Antum sudah tahu istri tidak akan mengizinkan, mengapa masih tetap dilakukan?" Suami itu dengan ringan menjawab, "Setelah tahun kelima menikah, rasanya istri sudah tidak mengenali Ana lagi." Akhirnya untuk menyelesaikan hal ini dilakukan ilaj atau perbaikan. Lelaki yang berselingkuh itu dipisahkan dari perempuan yang diselingkuhinya. Perlu waktu enam bulan untuk memisahkan mereka sampai benar-benar berpisah.

Enam bulan kemudian, hal mengejutkan terjadi. Ternyata istri dari suami yang berselingkuh itu datang ke rumah Ustadz Cah dan berkata, "Ustadz, suami saya berselingkuh. Apa yang harus saya lakukan? Sekarang saya sudah tidak  bisa berkomunikasi dengan dia lagi." Mendengar pernyataan dan pertanyaan itu, Ustadz Cah menjawab, "Kenapa suami Anti bisa berselingkuh?" Perempuan itu menjawab, "Entahlah, saya sudah tidak mengenalinya lagi. Dia sudah berbeda dengan dia yang dulu."
Inilah akar masalahnya, pasangan suami istri hanya berpatokan pada kondisi pasangannya yang dulu. Kalimat, "Dia sudah tidak seperti yang dulu lagi." adalah tanda sudah usangnya peta kasih antara suami istri. Seperti dalam berkendaraan, orang yang sudah menguasai medan akan mengetahui banyak jalan menuju suatu tempat. Ia tidak hanya mengetahui jalan-jalan utama tapi juga jalan-jalan tikus yang dapat mempercepat menuju tempat yang dimaksud. Bagitupun dalam memahami suami atau istri. Kita tidak hanya harus mengetahui karakter-karakter utamanya tapi juga mengetahui sikap-sikap lain yang mungkin muncul ketika menghadapi berbagai situasi. Kita harus mengetahi peta kasih suami istri kita. Kebuntuan dalam menghadapi masalah terjadi karena kita merasa hanya ada satu jalan untuk menyampaikan kasih kepada pasangan. Yakinlah peta kasih suami istri sangat banyak.

Jangan dikira dalam waktu beberapa tahun kita sudah mengenal pasangan kita. Waktu terus berjalan, kondisi terus berubah. Apalagi teknologi informasi, jejaring sosial, dan fasilitas komuniksi yang semakin mudah, membuat peluang perselingkuhan terbuka lebar. Suami yang dulunya baik, perubahan kondisi kehidupan sangat mungkin menyeretnya menjadi buruk. Ia akan terus terseret dalam keburukan jika istri tidak terus menerus belajar memahami suami dan kondisi yang dialami suaminya. Inilah yang menyebabkan perselingkuhan tadi terjadi. Jika seorang istri tidak belajar terus mengenai suaminya dari berbagai arah, mereka harus siap dengan perubahan drastis. "Dulu dia tidak begini?!" jangan sampai ada kalimat ini. Sikap, warna kesukaan, makanan kesukaan seorang suami mungkin saja berubah. Peta kasih harus terus diperbaharui. Terus kenali pasangan dan cara yang paling mudah adalah dengan ngobrol.

Ibu-ibu sering merasa banyak masalah karena mereka tidak punya tempat menyalurkan keluh kesahnya. Suami mereka malas mendengarkan cerita-cerita dari istrinya. Sedikit saja bercerita, kadang mereka disebut bawel. Padahal hal itu adalah satu cara untuk memperbaharui peta kasih suami istri. Komunikasi yang nyaman adalah komunikasi tanpa prosedur. Seorang istri bisa kapan saja bercerita tentang apapun kepada suaminya. Mereka tidak perlu berkata, "Abi, malam ini Ummi mau cerita sesuatu, penting!" Kalimat ini adalah tanda bahwa komunikasi suami istri tidak berjalan lancar. Komunikasi yang baik antar suami istri membebaskan istri untuk ngobrol kapan saja dan di mana saja.

Hal lain yang dapat memperbarui peta kasih adalah pernyataan cinta. Seorang istri butuh pernyataan dari suaminya. Jika seorang suami hanya menganggap bahwa kesungguhan cintanya sudah terbukti ketika akad, seorang istri tidak demikian. Setiap hari dia selalu ingin memastikan bahwa suaminya masih mencintainya. Ia harus tahu benar bahwa setelah bekerja di luar seharian, berpapasan dan bemuamalah dengan berbagai perempuan, suaminya hanya mencintai dia yang ada di rumah. Ia butuh kepastian bahwa hanya dirinya yang dicintai oleh sang suami. Oleh sebab itu, suami pun perlu menyampaikan cintanya kepada istri.

Yang harus diperhatikan juga adalah, perselingkuhan tidak mengenal jenis kelamin. Seorang lelaki berselingkuh, pasti dengan perempuan. Menyalahkan satu pihak di antara mereka adalah hal yang tidak tepat. Masalah perselingkuhan bagaikan mangkuk yang bertemu dengan tutupnya. Tidak jelas mangkuknya atau tutupnya yang pertama mendekati.  Oleh sebab itu, pencegahan perselingkuhan ini harus dilakukan oleh laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Maka keduanya harus memikul tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga. Keduanya harus bekersama dan terus belajar saling memahami karena rumah tangga adalah pelajaran hidup yang tiada henti. []


0 komentar:

Posting Komentar