oleh: Cahyadi Takariawan
Setiap keluarga muslim yang telah terbiasa mendapatkan pembinaan
keislaman, visi besar pernikahan mereka pasti sudah jelas. Menjadikan
rumah tangga sebagai surga di dunia untuk menggapai surga di akhirat
sudah pasti disepakati oleh suami istri. Dengan kesamaan visi ini, kita
tidak akan mengalami masalah besar dalam rumah tangga. Masalah yang
sering timbul dalam rumah tangga muslim justru adalah masalah yang
datang dari hal-hal kecil yang remeh temeh. Hal-hal kecil ini biasanya
yang menumpuk menjadi hal besar dan membuat peta kasih suami istri
menjadi usang.
Pada Awal Pernikahan
Sebagai contoh dalam soal masakan. Laki-laki dan perempuan menikah
dan membawa modal kehidupan berdasarkan latar belakang keluarga masing
masing. Bagi seorang anak, masakan yang enak adalah masakan ibunya
karena referensi makanan yang paling sering mereka nikmati adalah
masakan ibu. Sebutlah si Fulan, seorang lelaki yang terbiasa memakan
masakan berMSG. Ibunya biasa membubuhkan MSG dalam sayuran, tumisan,
sambal, bahkan nasi. Ibunya menganggap bahwa nasi akan terasa lebih enak
apabila dibubuhi MSG. Lalu lelaki ini menikah dengan Fulanah yang
ibunya tidak pernah menggunakan MSG. Sang ibu berkata bahwa hanya
perempuan yang tidak percaya diri dengan kualitas masalakannya yang
memasak menggunakan MSG. Dengan keyakinannya akhirnya pada hari pertama
pernikahannya Fulanah memasak tanpa menggunakan MSG. Setelah
dihidangkan, ternyata sang suami berkata bahwa masakan istrinya tidak
enak karena tidak menggunakan MSG. Walhasil, pertengkaran pertama pun
muncul hanya karena perbedaan selera masakan. Cara mengatasi masalah
kecil inilah yang harus disiapkan oleh lelaki dan perempuan yang akan
menikah. Budaya diskusi harusi dimulai sejak awal pernikahan.
Berdua Di Tengah Bahtera
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh suami istri adalah perbedaan
mereka dalam memandang sesuatu. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga
berada pada masa awal menyekolahkan anaknya. Seorang suami berkata,
"hari pertama masuk TK anak kita nangis atau tidak?" Pertanyaan
sederhana itu ternyata dijawab oleh sang istri dengan jawaban panjang,
"Hari ini anak kita senang sekali. Ternyata dia sekelas dengan anaknya
ketua RW kita yang rumahnya di depan itu lho! Ada juga anaknya ibu yang
jualan di depan gang kita. Karena nggak ada yang jemput, tapi anaknya
ibu itu pulang bareng kita." Pertanyaan singkat yang memerlukan jawaban
"ya" atau "tidak" dijawab panjang lebar oleh seorang istri. Sang suami
akhirnya berkata, "Jadi, tadi anak kita nangis atau tidak?" Inilah yang
memungkinkan timbul masalah. Perbedaan sistem otak perempuan dan
laki-laki harus dipahami oleh masing-masing.
Laki-laki memiliki sistem berpikir tunggal. Mereka umumnya fokus pada
satu hal dan tidak bisa berpikir bercabang-cabang. Sebaliknya,
perempuan memiliki sistem berpikir majemuk sehingga dapat memikirkan
banyak hal dalam satu waktu. Itulah mengapa ketika bercerita perempuan
suka menjelaskan banyak hal sebelum masuk ke inti pembicaraan. Hal ini
harus dapat dipahami oleh seorang suami. Begitupun pada pandangan,
laki-laki memandang fokus sedangkan perempuan memandang lebih melebar.
Contohnya ketika membuka kulkas, seorang perempuan ketika membuka pintu
kulkas, ia sudah mengetahui di mana letak-letak makanan yang
disimpannya.
Sistem berpikir majemuk inilah yang membuat perempuan pada pagi hari
mampu menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu. Pada saat bersamaan
mereka memasak, menyapu, menyiapkan seragam sekolah anaknya, dan
menyuapi anaknya yang paling kecil. Saat berbelanja, seorang perempuan
sudah akan memikirkan apa saja yang akan dibeli untuk anak pertama,
kedua, dan ketiga. Keperluan apa yang harus dibeli dalam sebulan. Cukup
tidaknya uang yang dialokasikan untuk biaya hidup sebulan. Sedangkan
seorang lelaki, hanya berpikir, "Ah, tinggal gesek kartu kredit saja,
selesai." Inilah perbedaan sistem berpikir laki-laki dan perempuan yang
harus diakrabi dan diatasi oleh pasangan muslim. Kemampuan berpikir
fokus laki-laki sebagai kepala keluarga harus mampu mengingatkan istri
sebagai mitra dalam rumah tangga terhadap visi atau target-target
keluarga. Kesibukan sehari-hari di rumah kadang membuat seorang istri
lupa pada capaian-capaian yang harus diraih keluarga. Inilah tugas suami
untuk mengingatkan.
Jangan Sampai Karam Karena Perselingkuhan
Setelah pernikahan berjalan bertahun-tahun, hal yang mungkin menjadi
masalah dalam keluarga adalah perselingkuhan. Hal ini bisa menimpa rumah
tangga manapun termasuk rumah tangga pasangan yang sudah mendapatkan
pembinaan keislaman. Di sebuah kota besar pernah terjadi kasus seorang
lelaki yang sudah beristri ternyata dekat dengan seorang perempuan
lajang. Mereka sudah sangat dekat bahkan sering makan siang dan makan
malam bersama. Sampai pada satu titik lelaki yang sudah menikah ini
mendatangi Ustadz Cah. "Ustadz, Ana sudah dekat dengan seorang akhwat,
Ana menyukainya begitupun dia. Namun, yang jadi masalah, istri Ana pasti
tidak akan mengizinkan saya berpoligami." Saat itu, Ustadz Cah
menjawab, "Antum sudah tahu istri tidak akan mengizinkan, mengapa masih
tetap dilakukan?" Suami itu dengan ringan menjawab, "Setelah tahun
kelima menikah, rasanya istri sudah tidak mengenali Ana lagi." Akhirnya
untuk menyelesaikan hal ini dilakukan ilaj atau perbaikan. Lelaki yang
berselingkuh itu dipisahkan dari perempuan yang diselingkuhinya. Perlu
waktu enam bulan untuk memisahkan mereka sampai benar-benar berpisah.
Enam bulan kemudian, hal mengejutkan terjadi. Ternyata istri dari
suami yang berselingkuh itu datang ke rumah Ustadz Cah dan berkata,
"Ustadz, suami saya berselingkuh. Apa yang harus saya lakukan? Sekarang
saya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan dia lagi." Mendengar
pernyataan dan pertanyaan itu, Ustadz Cah menjawab, "Kenapa suami Anti
bisa berselingkuh?" Perempuan itu menjawab, "Entahlah, saya sudah tidak
mengenalinya lagi. Dia sudah berbeda dengan dia yang dulu."
Inilah akar masalahnya, pasangan suami istri hanya berpatokan pada
kondisi pasangannya yang dulu. Kalimat, "Dia sudah tidak seperti yang
dulu lagi." adalah tanda sudah usangnya peta kasih antara suami istri.
Seperti dalam berkendaraan, orang yang sudah menguasai medan akan
mengetahui banyak jalan menuju suatu tempat. Ia tidak hanya mengetahui
jalan-jalan utama tapi juga jalan-jalan tikus yang dapat mempercepat
menuju tempat yang dimaksud. Bagitupun dalam memahami suami atau istri.
Kita tidak hanya harus mengetahui karakter-karakter utamanya tapi juga
mengetahui sikap-sikap lain yang mungkin muncul ketika menghadapi
berbagai situasi. Kita harus mengetahi peta kasih suami istri kita.
Kebuntuan dalam menghadapi masalah terjadi karena kita merasa hanya ada
satu jalan untuk menyampaikan kasih kepada pasangan. Yakinlah peta kasih
suami istri sangat banyak.
Jangan dikira dalam waktu beberapa tahun kita sudah mengenal pasangan
kita. Waktu terus berjalan, kondisi terus berubah. Apalagi teknologi
informasi, jejaring sosial, dan fasilitas komuniksi yang semakin mudah,
membuat peluang perselingkuhan terbuka lebar. Suami yang dulunya baik,
perubahan kondisi kehidupan sangat mungkin menyeretnya menjadi buruk. Ia
akan terus terseret dalam keburukan jika istri tidak terus menerus
belajar memahami suami dan kondisi yang dialami suaminya. Inilah yang
menyebabkan perselingkuhan tadi terjadi. Jika seorang istri tidak
belajar terus mengenai suaminya dari berbagai arah, mereka harus siap
dengan perubahan drastis. "Dulu dia tidak begini?!" jangan sampai ada
kalimat ini. Sikap, warna kesukaan, makanan kesukaan seorang suami
mungkin saja berubah. Peta kasih harus terus diperbaharui. Terus kenali
pasangan dan cara yang paling mudah adalah dengan ngobrol.
Ibu-ibu sering merasa banyak masalah karena mereka tidak punya tempat
menyalurkan keluh kesahnya. Suami mereka malas mendengarkan
cerita-cerita dari istrinya. Sedikit saja bercerita, kadang mereka
disebut bawel. Padahal hal itu adalah satu cara untuk memperbaharui peta
kasih suami istri. Komunikasi yang nyaman adalah komunikasi tanpa
prosedur. Seorang istri bisa kapan saja bercerita tentang apapun kepada
suaminya. Mereka tidak perlu berkata, "Abi, malam ini Ummi mau cerita
sesuatu, penting!" Kalimat ini adalah tanda bahwa komunikasi suami istri
tidak berjalan lancar. Komunikasi yang baik antar suami istri
membebaskan istri untuk ngobrol kapan saja dan di mana saja.
Hal lain yang dapat memperbarui peta kasih adalah pernyataan cinta.
Seorang istri butuh pernyataan dari suaminya. Jika seorang suami hanya
menganggap bahwa kesungguhan cintanya sudah terbukti ketika akad,
seorang istri tidak demikian. Setiap hari dia selalu ingin memastikan
bahwa suaminya masih mencintainya. Ia harus tahu benar bahwa setelah
bekerja di luar seharian, berpapasan dan bemuamalah dengan berbagai
perempuan, suaminya hanya mencintai dia yang ada di rumah. Ia butuh
kepastian bahwa hanya dirinya yang dicintai oleh sang suami. Oleh sebab
itu, suami pun perlu menyampaikan cintanya kepada istri.
Yang harus diperhatikan juga adalah, perselingkuhan tidak mengenal
jenis kelamin. Seorang lelaki berselingkuh, pasti dengan perempuan.
Menyalahkan satu pihak di antara mereka adalah hal yang tidak tepat.
Masalah perselingkuhan bagaikan mangkuk yang bertemu dengan tutupnya.
Tidak jelas mangkuknya atau tutupnya yang pertama mendekati. Oleh sebab
itu, pencegahan perselingkuhan ini harus dilakukan oleh laki-laki
sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Maka keduanya harus memikul
tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga. Keduanya harus bekersama
dan terus belajar saling memahami karena rumah tangga adalah pelajaran
hidup yang tiada henti. []
0 komentar:
Posting Komentar