Meski Diganggu, Abu Hanifah Masih Peduli dengan Tetangga

Senin, 05 Mei 2014
Sekalipun para ulama terdahulu adalah sosok yang hebat semangatnya dalam mengkaji  Islam dan ahli ibadah, mereka juga peduli dengan lingkungannya. Coba tengok satu kisah tentang imam Abu Hanifah. Ulama yang disegani di zamannya ini suatu kali pernah bermasalah dengan tetangganya.

Abu Hanifah dikenal begitu aktif memuliakan malam hari dengan shalat tahajud. Hanya saja, dia punya tetangga yang bisa dibilang pengganggu saat tengah malam tiba. Hobinya yang suka mabuk-mabukan, seringkali membuat kegaduhan. Tetangga lain pun terganggu, termasuk pula Abu Hanifah yang sedang melakukan shalat.

Ternyata, tetangga tersebut  memang punya niat buruk untuk mengganggu kekhusyukan sang imam. Ketika mabuk, dia melantukan puisi atau syair cinta sembari menenggak minuman keras. Tabiat orang mabuk adalah bicara asal bunyi, dan seringkali membuat ulah dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar diri.

Namun, suatu hari Abu Hanifah merasa heran. Tiba-tiba saja kegaduhan yang biasa terjadi ketika dirinya shalat tahajud mendadak hilang.  Beliau pun mencari tahu ada apa dengan tetangganya itu. Dari penelusuran yang dilakukan Abu Hanifah, diketahui tetangganya telah ditangkap petugas dan meringkuk sebagai tahanan.

Ternyata, Abu Hanifah tidak lantas berpuas diri mendengar keadaan tetangganya itu. Beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke penjara. Ketika penguasa setempat mandapati sang imam di area penjara, Abu Hanifah pun ditanya oleh penguasa tentang alasannya berada di sana. Abu Hanifah mengatakan, dirinya sangat prihatin dengan kondisi tetangganya. Mendengar hal tersebut, akhirnya tetangga Abu Hanifah dibebaskan dengan segera. Kala itu, Abu Hanifah adalah sosok ulama yang sangat dihormati, termasuk oleh penguasa setempat.

Mengetahui dirinya dibebaskan atas campur tangan Abu Hanifah, sang tetangga menanyakan alasan sang imam membantunya keluar dari penjara. Dan, Abu Hanifah menjawabnya dengan ucapan yang menyentuh.

“Karena, Anda punya hak dari saya sebagai tetangga. Dan, saya belum lalai soal itu,” ujar Abu Hanifah.

Kalimat ini begitu meluruhkan hati sang tetangga. Tidak lama setelah itu dia mendapat hidayah dan memeluk Islam.



0 komentar:

Posting Komentar