Merenungi Nikmat-Nya

Selasa, 11 Maret 2014
Di sebuah negeri Arab, ada seorang yang sudah sepuh, usianya sudah menginjak 80 tahun. Umumnya orang-orang yang sudah berumur, banyak penyakit yang datang silih berganti, tidak terkecuali sang kakek mengidap penyakit kanker prostat yang cukup parah.

Pada suatu hari ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan urinnya. Anak-anaknya pun membawanya ke rumah sakit agar segera ditangani oleh dokter. Kakek tua itu langsung diperiksa oleh dokter dan diupayakan agar masalahnya bisa teratasi.  Alhamdulillah, para dokter bisa mengatasi masalahnya, ia bisa mengeluarkan urinnya dan berkuranglah rasa sakitnya. Anak-anaknya menemui dokter yang mengobati ayah mereka, mereka mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan para dokter.

Setelah itu, anak-anak kakek ini kembali menemui ayah mereka untuk menghibur dan menenangkan hatinya. Namun mereka melihat ayah mereka sedang tenggelam dalam deraian air mata. Lalu mereka mengatakan, " Wahai ayah, rasa sakit yang engkau rasakan telah hilang, mengapa ayah menangis?"

Kakek tua itu menenangkan diri dari tangisnya, lalu menjawab, "Dokter itu hanya menolongku dalam satu kali kesempatan saja, tapi kita benar-benar merasakan kebaikannya, dan kita benar-benar sangat berterima kasih kepadanya. Aku teringat Allah Ta'ala, yang selama 80 tahun ini aku benar-benar dibuai dengan kenikmatan yang Dia berikan kepadaku. Dengan kedermawanan dan kebaikan-kebaikan-Nya, sampai-sampai perkara yang tidak aku minta pun Dia berikan untukku, namun betapa kurang rasa syukurku kepada-Nya".

Demikianlah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dalam kandungan ibu kita hingga usia kita saat ini. Banyak kenikmatan yang Allah berikan, bahkan terkadang kita tidak memintanya, dan kita tidak tahu akan mendapatkannya, namun Allah berikan kepada kita lalu kita bahagia dengan kenikmatan yang tidak disangka-sangka itu.

Sampai Imam Ibnu Qayyim menggambarkan jika saja kita benar-benar menyadari nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita niscaya kita akan sngat mencintai-Nya dan ketika kita benar-benar menyadari nikmat-Nya, hati kita akan tersyat-sayat betap kita selama ini tidak berterima kasih kepada-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar