Problematika besar bangsa ini sejatinya bermula dari sebuah kerusakan
kecil. Seperti peristiwa kebakaran hebat, ia bermula dari percikan api
yang kecil. Karena itu, kita harus senantiasa mengantisipasi terjadinya
kerusakan kecil agar tidak telanjur makin besar.
Kerusakan kecil itu ialah ketidakmurnian niat dalam berbuat atau
melakukan sesuatu. Islam sangat memperhatikan masalah niat. Niat yang
salah (tidak karena Allah) akan menghilangkan pahala dari kebaikan yang
dilakukan meskipun amal tersebut tergolong amal saleh yang dicintai
Allah dan rasul-Nya. “Se sung guhnya amalan-amalan itu tergantung
niatnya. Sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan.” (HR
Bukhari Muslim).
Jadi, sekalipun seseorang mampu merangkai kata-kata indah nan memukau
atau mampu bekerja keras dengan penuh semangat, tapi tidak diniati
karena Allah, sia-sialah semuanya. Niat yang buruk atau niat yang
ditumpangi oleh kepentingan nafsu akan menimbulkan perselisih an serius
sehingga menyebabkan terjadinya perdebatan, perteng kar an, perkelahian,
bahkan permu suh an dan dendam. Oleh karena itu, ber hati-hatilah dalam
mengambil sebuah keputusan sebelum bertindak.
Kita harus memastikan secara jernih bahwa yang kita lakukan benar-
benar semata-mata karena Allah agar mendapat keridaan-Nya. Jika sudah
memastikan bahwa yang kita lakukan adalah murni karena Allah, lalu
direspons keliru oleh orang lain, janganlah terprovokasi untuk marah.
Tetaplah tenang dan bersegeralah mengingat Allah. Bahkan jika perlu,
mohonkanlah ampun buat orang tersebut dan bermusyawarahlah bersamanya
dalam mengambil keputusan. “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS [3]:
159).
Ketika Khalid bin Walid dinonaktifkan sebagai panglima jenderal kaum
Muslimin oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalid sama sekali tidak
bereaksi negatif, justru ia bersyukur karena Allah telah membebaskan
dirinya dari besarnya amanah yang sangat berat. Ketika ditanya oleh
sahabatnya perihal penonaktifan dirinya, Khalid menjawab singkat, “Saya
berjihad ini karena Allah, bukan karena Umar.” Khalid tetap dalam
pasukan meskipun berubah posisi hanya sebagai prajurit biasa.
Sebagai seorang Muslim, sikap seperti itulah yang harus kita pelihara
dalam diri kita, yaitu menjaga kemurnian niat dalam berbuat. Jangan
sampai hanya karena tidak lagi diberi kesempatan memimpin, lalu langsung
meradang dan mencemooh semua orang.
Begitupun bila kita sebagai pemegang kebijakan, hendaknya mengambil
keputusan atas dasar niat suci karena Allah yang disertai dengan
musyawarah. Jangan sampai membuat keputusan atas dasar kepentingan diri
(otoriter), apalagi hanya karena pengaruh pihak lain.
Saat ini dan ke depan, marilah kita tata kembali niat dalam berbuat
dan semata-mata hanya mengharap rida Allah SWT. Sekiranya semua umat
Islam memahami hal ini dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari,
akan terbinalah ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam.
0 komentar:
Posting Komentar